Pemerintah dan Oposisi Venezuela Minta Vatikan Turun Tangan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjuk rasa anti-pemerintah berbaring sambil dirantai saat protes di depan kantor PBB di Caracas (28/4). Warga Venezuela yang ingin protes harus meminta izin dari pemerintah daerah untuk mencegah penyebaran pasukanr, di tengah-tengah gelombang kekerasan protes terhadap Presiden Nicolas Maduro.  REUTERS/Jorge Silva

    Pengunjuk rasa anti-pemerintah berbaring sambil dirantai saat protes di depan kantor PBB di Caracas (28/4). Warga Venezuela yang ingin protes harus meminta izin dari pemerintah daerah untuk mencegah penyebaran pasukanr, di tengah-tengah gelombang kekerasan protes terhadap Presiden Nicolas Maduro. REUTERS/Jorge Silva

    TEMPO.CO, Karakas - Gereja Katolik Roma diminta menjadi penengah dalam perundingan damai untuk memulihkan krisis Venezuela. Meskipun Paus Fransiskus belum resmi menerima permintaan tersebut, pemerintah Presiden Nicolas Maduro telah menerima usulan oposisi agar Vatikan menengahi krisis politik akibat krisis ekonomi parah di Venezuela.

    "Saya pikir itu kabar baik permohonan ini telah diterima kedua belah pihak. Ini akan memperkaya kita secara rohani dan mudah-mudahan juga politik," kata mantan Presiden Kolombia Ernesto Samper, ketua blok UNASUR atau koalisi negara Amerika Selatan, Jumat, 22 Juli 2016.

    Vatikan disebut-sebut menjadi pilihan karena Paus Fransiskus dinilai berhasil memainkan peran kunci dalam memfasilitasi pemulihan hubungan Kuba dengan Amerika Serikat yang memburuk selama setengah abad, baru-baru ini. 

    Krisis berkepanjangan Venezuela telah menyebabkan perpecahan di dalam negara kaya minyak tersebut. Jutaan warganya menderita kelaparan karena kekurangan bahan pangan. Maduro menjadi sasaran serangan dari oposisi karena dianggap lemah dan tidak bisa mengatasi krisis ekonomi itu.

    Koalisi oposisi Persatuan Demokrasi, yang berhasil memenangi kursi parlemen pada 2015, telah mendorong referendum guna menggulingkan Maduro dan pemerintah sosialisnya yang disalahkan atas inflasi yang tak terkendali, kekurangan bahan makanan, dan resesi selama tiga tahun berturut-turut. 

    Tapi Maduro, 53 tahun, mantan sopir bus yang memenangi pemilu untuk menggantikan Hugo Chavez pada 2013, menuduh mereka merencanakan kudeta dan mengatakan referendum tidak akan terjadi. Pemerintah kemudian diselamatkan Mahkamah Agung, yang tidak menyetujui langkah legislatif tersebut.

    UNASUR, yang diketuai Samper, dan tiga mantan kepala negara lain, yakni, Jose Luis Rodriguez Zapatero dari Spanyol, Martin Torrijos dari Panama, dan Leonel Fernandez dari Republik Dominika, selama beberapa bulan terakhir telah berusaha membawa kedua pihak ke meja perundingan. 

    Dalam pembicaraan nanti, oposisi akan tetap mempertahankan syaratnya, yakni referendum pada tahun ini, izin untuk bantuan internasional kemanusiaan ke Venezuela, membebaskan lawan pemerintah yang dipenjara, dan menghormati legislatif.

    TIME | REUTERS | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.