Malaysia Tahan Dua WNI Terkait Kapal Tenggelam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah helikopter Maritime Malaysia terlihat di udara selama pencarian dan penyelamatan tenggelamnya imigran gelap Indonesia, di lepas pantai barat Malaysia, di Kuala Lumpur, Malaysia, 18 Juni 2014. REUTERS

    Sebuah helikopter Maritime Malaysia terlihat di udara selama pencarian dan penyelamatan tenggelamnya imigran gelap Indonesia, di lepas pantai barat Malaysia, di Kuala Lumpur, Malaysia, 18 Juni 2014. REUTERS

    TEMPO.COKuala Lumpur – Pihak berwenang Malaysia mengatakan dua orang pria Indonesia telah ditahan terkait dengan tragedi tenggelamnya dua kapal tongkang di perairan Malaysia pada Selasa tengah malam dan Rabu pagi.

    Dikutip dari ABC Net, Kepala Investigasi Kriminal Selangor Adnan Abdullah mengatakan kedua orang ini diyakini sebagai agen pengiriman dan koordinator perahu. Menurut media lokal, keduanya ditangkap pada Jumat, 20 Juni 2014 pagi di Port Klang. (Baca: 66 Imigran Indonesia Diduga Tenggelam di Malaysia)

    Dua belas pria dan tiga wanita dilaporkan tewas dalam dua insiden terpisah ini. Sementara itu, 27 orang lainnya masih hilang. Dua puluh korban berasal dari kapal yang tenggelam di lepas Port Klang, Banting, dan tujuh lainnya berasal dari kapal yang tenggelam di Sepang. (Baca: Kapal Angkut 27 TKI Tenggelam di Perairan Malaysia)

    Sebuah kapal bermuatan 97 orang dilaporkan tenggelam di perairan Selat Malaka, sekitar tiga kilometer dari kota pesisir Banting pada Selasa, 17 Juni 2014 tengah malam. Belum lewat satu hari, pada Rabu pagi, kapal lain yang mengangkut 27 orang juga dilaporkan tenggelam di perairan Sepang.

    ANINGTIAS JATMIKA | ABC NET

    Terpopuler

    Krisis Irak, Arab Saudi Peringatkan Iran
    Parasetamol Racuni 150 Orang Australia Tiap Pekan
    Pertama ke Asia, Paus Fransiskus Tak ke Indonesia

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.