Samudera Kehilangan Oksigen, Keanekaragaman Hayati Terancam

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nelayan menyandarkan perahunya di bibir pantai yang dipenuhi sampah plastik di Desa Dadap, Indramayu, Jawa Barat, Senin, 26 November 2018. LSM World Wild Fund for Nature (WWF) Indonesia menilai masalah pencemaran sampah plastik di laut Indonesia saat ini sudah bisa disebut sebagai darurat sampah plastik. ANTARA/Dedhez Anggara

    Nelayan menyandarkan perahunya di bibir pantai yang dipenuhi sampah plastik di Desa Dadap, Indramayu, Jawa Barat, Senin, 26 November 2018. LSM World Wild Fund for Nature (WWF) Indonesia menilai masalah pencemaran sampah plastik di laut Indonesia saat ini sudah bisa disebut sebagai darurat sampah plastik. ANTARA/Dedhez Anggara

    TEMPO.CO, Jakarta - International Union for the Conservation of Nature, IUCN memperingatkan samudera telah kehilangan oksigen disebabkan perubahan iklim dan polusi dengan resiko mengerikan bagi kehidupan laut, nelayan, dan masyarakat pesisir.

    Menurut IUCN, ada sekitar 700 area di dalam samudera yang teridentifikasi mengalami penurunan level oksigen. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan tahun 1960an yakni sekitar 45 kawasan.

    Berdasarkan studi peer-review terbesar, IUCN memperingatkan bahwa volume perairan anoksik, kawasan yang sama sekali tidak ada oksigen, telah bertambah empat kali lipat.

    "Apa yang kami lihat adalah penurunan 2 persen dari tingkat oksigen gobal (dalam samudera). Kedengarannya tidak banyak namun perubahan kecil ini akan berdampak sangat besar," kata Minna Epps, direktur program laut dan kutub global IUCN kepada Al Jazeera, Sabtu, 7 Desember 2019.

    Penurunan level okisgen dalam samudera memberikan dampak pada peningkatan ancaman terhadap spesis ikan berbadan besar seperti tuna, marlin, bahkan hiu. Hewan-hewan ini sangat sensitif dengan rendahnya gas yang memberi kehidupan bagi mereka disebabkan ukuran tubuh mereka yang besar dan membutuhkan energi.

    "Deoksigenasi akan berdampak pada keanekaragaman hayati, pada biomassa spesies penting secara komerisla dan pada spesies langka yang rentan. Ini juga berdampak pada habitat. Kami menyaksikan spesies bermigrasi karena hal ini," ujar Epps.

    Dari kecenderungan saat ini, samudera diperkirakan kehilangan 3-4 persen oksigen secara global pada tahun 2100. Meski begitu, sebagian besar kehilangan itu diprediksikan terjadi di atas ketinggian 1.000 meter, tempat keanekaragaman hayati samudera terkaya tinggal.

    Sementara kehidupan samudera bertarung menghadapi pemanasan suhu, polusi plastik yang sangat besar, dan penangkapan ikan berlebihan.

    Laporan IUCN juga menemukan fakta bahwa polusi di sekitar garis pantai memiliki efek signifikan pada tingkatan oksigen dalam samudera. Dengan pupuk dan limpasan pertanian memunculkan lebih banyak lagi ganggang yang akan menguras oksigen saat terurai.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?