Senin, 10 Desember 2018

Mesir Hukum Mati 75 Orang, Termasuk Pemimpin Ikhwanul Muslimun

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dalam foto 20 April 2015 ini, Pembimbing Utama Ikhwanul Muslimun, Mohammed Badie, mengenakan seragam merah yang menandakan dia telah dijatuhi hukuman mati, selama sidang pengadilan di penjara Tora, Kairo, Mesir.[AP Photo / Lobna Tarek, Koran El Shorouk]

    Dalam foto 20 April 2015 ini, Pembimbing Utama Ikhwanul Muslimun, Mohammed Badie, mengenakan seragam merah yang menandakan dia telah dijatuhi hukuman mati, selama sidang pengadilan di penjara Tora, Kairo, Mesir.[AP Photo / Lobna Tarek, Koran El Shorouk]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengadilan Mesir menjatuhkan hukuman mati terhadap 75 orang termasuk para pemimpin senior Ikhwanul Muslimun. Mereka dituding terlibat unjuk rasa di Kairo pada 2013 yang berakhir dengan kematian ratusan demonstran.

    Al Jazeera melaporkan, pemimpin senior Ikhwanul, Essam el-Erian dan Mohamed Beltagi dihukum mati. Sementara Mohamed Badie, pemimpin spiritual Ikhwanul dijatuhi hukuman seumur hidup.

    Baca: Mesir Menjatuhkan Hukuman Mati Terhadap Ulama

    Pemimpin Ikhwanul Muslimun, Mohamed Badie, meneriakkan slogan-slogan menentang Kementerian Dalam Negeri di balik jeruji besi selama persidangan 738 anggota Ikhwanul Muslimun karena aksi protes di alun-alun Rabaa, di sebuah pengadilan di pinggiran Kairo, Mesir, 31 Mei 2016.[REUTERS]

    Adapun wartawan foto Mahmoud Abu Zeid yang juga dikenal dengan panggilan Shawkan diganjar hukuman lima tahun. Dia ditahan pada Agustus 2013 ketika sedang meliput pembunuhan di Kairo. "Dia akan keluar dalam waktu beberapa hari lagi," kata pengacara Shawkan seperti dikutip Al Jazeera.

    Menurut majelis hakim yang menjatuhkan Vonis pada Sabtu 8 September 2018 itu, para terdakwa telah mengganggu keamanan, termasuk menggelorakan kekerasan dan berunjuk ilegal.Pendukung mantan Presiden Mohamed Morsi berkumpul di Kairo, Mesir (28/3). (AP/Amru Taha)

    Pada 14 Agustus 2013, polisi membubarkan paksa unjuk rasa damai di Lapangan Rabaa al-Adawiya, Kairo. Pada aksi tersebut, pasukan keamanan Mesir membunuh lebih dari 800 orang. "Aksi itu kejahatan kemanusiaan," kata Human Rights Watch, HRW.

    Baca: Mesir Akui Hukum Mati 183 Orang

    Unjuk rasa besar-besaran oleh pendukung Mohamed Morsi, presiden yang dipilih secara demokraqtis dan pemimpin Ikhwanmul Muslimun, pecah di Mesir. Morsi dijatuhkan oleh militer. Selanjutnya terjadi penangkapan terhadap ribuan orang dan pembunuhan massal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.