Wanita Ini 'Presiden Bayangan' Pemicu Krisis Politik Korsel  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Choi Soon-sil. Koreatimes.co.kr

    Choi Soon-sil. Koreatimes.co.kr

    TEMPO.CO, Seoul-Choi Soon-sil, 60 tahun, merupakan figur utama dalam pusaran krisis politik di Korea Selatan (Korsel) saat ini. Bermodalkan persahabatan selama 40 tahun dengan Presiden Park Geun-hye, Choi mengintervensi pemerintahan bahkan meraup keuntungan jutaan dollar Amerika Serikat. Ia menjadi presiden bayangan di negara itu.

    Choi ikut menentukan kebijakan pemerintahan Park. Ia merumuskan pidato kenegaraan, mengedit pidato-pidato Presiden Park, memiliki akses ke dokumen-dokumen rahasia negara, dan mendikte kebijakan penting di bidang ekonomi, pertahanan, dan luar negeri Korea Selatan.

    Bahkan dengan kelihaiannya Choi memanfaatkan kedekatannya dengan Presiden Park dengan meraup uang US$ 70 juta atau Rp 913,1 miliar dari para konglomerat  perusahaan ternama seperti Samsung dan Hyundai untuk membiayai dua lembaga non-profitnya.

    Choi juga memaksa pihak universitas terpandang di Korea Selatan untuk mengubah kriteria calon mahasiswa untuk masuk ke universitas itu, sehingga anak perempuannya lolos masuk universitas tanpa bersusah payah.

    Baca:
    Krisis Politik di Korea Selatan, 3 Pembantu Presiden Mundur
    Ribuan Orang Unjuk Rasa Tuntut Presiden Park Geun-hye Mundur

    Siapa Choi sehingga Presiden perempuan pertama di Korea Selatan ini tunduk padanya?

    Choi tidak memiliki posisi resmi apapun di pemerintahan Korea Selatan. Namun persahabatan selama 40 tahun dengan Presiden Park membuktikan Choi tidak perlu jabatan resmi untuk bisa terlibat dalam pemerintahan.

    Media menggambarkan Choi seperti figur Grigori Rasputin, pemimpin mistis  yang dekat dengan raja Nicholas II, Kaisar terakhir Rusia. Choi memberikan pengaruh buruk kepada Presiden Park dengan ritual mistisnya.

    Choi dan Park sudah berteman dekat sejak tahun 1970-an. Saat itu Park baru saja kehilangan ayahnya, Park Chung-hee, yang dibunuh oleh kepala intelijennya saat makan malam. Park saat itu menjabat sebagai presiden Korea Selatan dan mendapat julukan seorang diktator. Park juga dikenang sebagai presiden yang membawa Korea Selatan memasuki dunia industri.

    Ayah Choi, Choi Tae-min, merupakan mentor dan penasehat spiritual Park Chung-hee. Ia menikah sebanyak enam kali, memiliki sejumlah nama alias dan pendiri satu komunitas pemujaan dengan memasukkan nilai-nilai Kristen yang dikenal sebagai Church of Eternal Life, Gereja Kehidupan Abadi.

    Choi Tae-min kemudian berteman dengan Park setelah  Yuk Young-soo, ibu Park,  ditembak mati oleh mata-mata Korea Utara. Peluru itu sebenarnya ditujukan ke Park Chung-hee yang belakangan tewas di tangan kepala intelijennya.

    Choi mengatakan Yuk muncul dalam mimpinya dan memintanya untuk menolong mengatasi trauma anak perempuannya, Park.

    Pertemanan Choi dan Park menjadi erat setelah ayah Choi meninggal tahun 1994.  Saat pemilihan presiden tahun 2012, mantan suami Choi menjadi pembantu utama Park saat kampanye pemilihan presiden hingga memenangkan pemilihan.

    "Choi merupakan seseorang yang menolong saya di masa sulit dulu, dan  saya menerima bantuannya untuk beberapa pidato saya," kata Park saat menyatakan permohonan maafnya kepada rakyat Korea Selatan yang menudingnya telah mengkhianati kepercayaan mereka, seperti dikutip dari Guardian, 30 Oktober 2016

    Ribuan warga Korea Selatan melakukan unjuk rasa di sejumlah kota yang dimulai pada Sabtu malam, 29 Oktober dan diperkirakan hingga 12 November. Mereka menuntut Park mundur dari jabatannya sebagai presiden. Park sudah menjabat selama 4 tahun dari 5 tahun periodenya sebagai presiden Korea Selatan.

    Menurut pendapat Victor Cha sebagai penasehat senior dan Kepala Pusat Centre for Strategic and International Studies di Washington, Amerika Serikat, partai berkuasa Saenuri akan memecat Park. "Untuk menjaga jarak dengan Park dalam pemilihan presiden tahun 2017," katanya.

    Dan, skandal ini, menurut para analis politik, akan melumpuhkan pemerintahan Park, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan angka pengangguran.

    GUARDIAN | STRAITS TIMES | MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.