Upin dan Ipin pun Ikut Perayaan Kemerdekaan Malaysia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • indowebster.com

    indowebster.com

    TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur - Perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia ke-54 tahun ini disatukan dengan Hari Malaysia. Hari kemerdekaan negeri jiran itu seharusnya berlangsung 31 Agustus 2011 lalu. Namun, berhubung tanggal itu bertepatan dengan hari kedua Idul Fitri, maka perayaan diadakan Jumat, 16 September 2011 ini.

    Ini adalah kali ketiga dua perayaan itu disatukan. Perayaan Hari Malaysia menandai bergabungnya Negeri Sabah dan Serawak ke dalam Kerajaan Malaysia pada 16 September 1963.

    Digelar di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, pagi ini perayaan berlangsung meriah. Perkiraan Kementerian Penerangan Malaysia, jumlah peserta upacara akan mencapai 100 ribu orang. Namun, dalam pantauan Tempo Jumat pagi ini, jumlah yang hadir ditaksir kurang dari jumlah itu.

    Selain upacara, digelar pula arak-arakan. Ikut dalam arak-arakan dengan mobil terbuka, juara bulutangkis All England Lee Chong Wei. Bahkan, boneka Upin dan Ipin juga ikut .

    Di panggung kehormatan tampak bekas Perdana Menteri Datuk Tun Mahathir Mohamad. Mantan perdana menteri Abdullah Badawi sampai saat ini belum terlihat hadir.

    Hadir pula Yang Dipertuan Agung Tuanku Mizan Zainal Abidin, raja termuda dari Negeri Terengganu yang usianya baru 49 tahun, yang segera berganti dengan raja dari negeri yang lain. Mizan Zainal Abidin adalah Sultan Terengganu ke-17 dan Yang Dipertuan Agung ke-13 Kerajaan Malaysia.

    Dataran Merdeka adalah saksi sejarah penurunan bendera Inggris pada lewat tengah malam menjelang 31 Agustus 1957. Bendera Kerajaan Malaysia "Jalur Gemilang" resmi menggantikan Union Jack, bendera Inggris. Peristiwa itu disaksikan Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman.

    TORIQ HADAD (Kuala Lumpur)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.