Surya, WNI Korban Penembakan Mavi Marmara, Kehilangan Darah Seliter

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Surya Fahrizal dipindahkan ke ambulans di perbatasan Yordania,  untuk dibawa ke Rumah Sakit Ratu Rania di Kompleks Rumah Sakit Militer King Hussein, Amman,  (7/6). TEMPO/Ahmad Taufik

    Surya Fahrizal dipindahkan ke ambulans di perbatasan Yordania, untuk dibawa ke Rumah Sakit Ratu Rania di Kompleks Rumah Sakit Militer King Hussein, Amman, (7/6). TEMPO/Ahmad Taufik

    TEMPO Interaktif, Amman -Ruangan di Kedutaan Besar Indonesia di Amman, Yordania, tiba-tiba menjadi syahdu. Sepuluh relawan itu melakukan sujud syukur berbarengan. Suara takbir juga meledak di ruang crisis center insiden kapal Mavi Marmara tersebut. Sore itu, Kamis pekan lalu, mereka berkumpul pasca-insiden penyerangan terhadap kapal Mavi Marmara oleh Israel. Saat itu Duta Besar untuk Kerajaan Yordania, Zainulbahar Noor, berbicara langsung via telepon dengan Surya Fahrizal, 28 tahun, wartawan majalah Islam Hidayatulllah, yang masih dirawat di Rumah Sakit Ramban di Haifa, Israel.

    Surya, menurut dokter Arief Rahman, dokter relawan dari Mer-C, yang sebelumnya berada di Marvi Marmara dan kini berada di Amman, masih lemah. Dokter Israel sudah melakukan tindakan menyeluruh dan tindakan yang diperlukan. Kondisi Surya sekarang stabil. Namun pemindahan dari Israel ke Palestina masih membahayakan tubuhnya. "Ini operasi besar, perdarahan. Darah yang hilang sekitar seliter, itu sudah seperlima dari darah seseorang," katanya. Toh, Arief bersyukur. Walau kondisinya lemah, dia lolos dari kematian.

    Surya, menurut relawan lainnya, Wisnu Pramudya, sebenarnya bukan orang yang dipersiapkan ke Gaza. "Surya itu bukan pilihan pertama. Saya larang dia untuk berangkat, eh, tau-tau dia sudah berangkat. Dia semangat banget."

    Wisnu mengisahkan, saat mereka belum tahu tentara Israel membuntuti kapal Mavi Marmara, Surya sudah bersiap-siap. "Dia sudah salat khusus. Saat ditanya, dia bilang, 'Ya, salat siap-siap aja,'" kata suami Santi Soekanto, relawan Palestina lainnya, itu.

    Surya, sebelum berpisah dengan Wisnu, masih sempat melakukan sujud syukur karena ada tentara Israel yang tertangkap. "Kami sujud syukur di press room yang sudah kosong. Internet mati," katanya. Setelah salat dua rakaat dengan pelampung di badan, keduanya naik ke tempat helikopter menderu. Setelah itu, mereka berpisah. "Saat datang lagi, dia memegang dadanya, megap-megap," ujar Yasin. Wajah Surya sudah kosong. "Ya, Allah, mati nih temen gue."

    Dugaan Yasin, Surya memotreti tentara Israel yang turun dari helikopter dengan flash. "Wartawan Spanyol pernah memperingatkan saya, lampu sorot kamera dan flash menjadi sasaran senjata Israel di waktu gelap," tutur Yasin. Surya masih memakai pelampung, dokter Arief membuka sedikit bajunya, tampak darah mengucur deras. Lalu, dengan paksa, pelampung dibuka. Tampak dadanya bolong.

    Belakangan diketahui, tulang iga kedelapan Surya patah terkena peluru. Timah panas itu berbelok dan merobek sebagian jaringan jantung. "Untung dia pake pelampung. Itulah yang meredam peluru hingga tak menembus badan."


    Ahmad Taufik (Amman-Yordania)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.