Ribuan Warga Cina Diundang Saksikan 10 Terpidana Dihukum Mati

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Persidangan umum di Lufeng. Foto: The Paper

    Persidangan umum di Lufeng. Foto: The Paper

    TEMPO.CO, Jakarta - Ribuan warga Cina diundang datang ke stadion olahraga untuk menyaksikan sepuluh terpidana yang dijatuhi hukuman mati atas tuduhan terlibat kejahatan narkoba, pembunuhan, dan perampokan.

    Ribuan orang di Kota Lufeng, Provinsi Guangdong, atau sekitar 160 kilometer dari Hong Kong, duduk di kursi yang sudah disediakan untuk menyaksikan pembacaan hukuman mati sepuluh terpidana oleh pengadilan.

    Baca: Sekjen PBB Guterres Serukan Semua Negara Hapus Hukuman Mati

    Setelah pembacaan hukuman mati selesai, kesepuluh terpidana kemudian dieksekusi.

    Undangan resmi dari pejabat setempat disebarkan lewat media sosial, empat hari sebelum pelaksanaan hukum mati. Namun pengadilan publik di Cina sangat jarang dilakukan.

    Baca: CADPA Desak ASEAN Hapus Hukuman Mati

    Memenuhi rasa ingin tahu, sejumlah warga yang diundang berdiri di atas kursi yang disediakan, beberapa memotret proses hukuman mati itu dengan kamera telepon selulernya, dan ada yang memilih chatting atau merokok.

    Lufeng merupakan kota yang dikenal dengan masalah narkobanya. Pada 2014, sekitar 3.000 polisi turun ke Lufeng dan menangkap 182 orang. Polisi menemukan 3 ton ekstasi. Lufeng disebut kota yang memproduksi ekstasi terbesar ketiga di Cina.

    Baca: Kematian Napi Ini Jadi Eksekusi Mati Pertama AS di 2017

    Pengadilan publik di Lufeng bukan yang pertama kali. Lima bulan lalu, delapan terpidana dihukum mati dalam perkara narkoba.

    Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak agar hukuman mati dihapuskan di seluruh negara, seraya menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi hukuman mati pada abad ke-21 ini.

    Pernyataannya itu disampaikan saat memperingati Hari Penolakan Hukuman Mati Sedunia yang ke-15 di gedung PBB, New York, Senin, 10 Oktober 2017. "Saya minta kepada seluruh negara yang masih meneruskan praktik barbar ini: tolong hentikan eksekusi," kata Guterres.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.