Malala: Dunia Tunggu Aksi Aung San Suu Kyi soal Rohingya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akun twitter Malala. twitter.com

    Akun twitter Malala. twitter.com

    TEMPO.CO, Yangoon - Malala Yousafzai mendesak Aung San Suu Kyi mengutuk peristiwa tragis dan memilukan yang dialami warga Rohingya menyusul kekerasan menyebabkan ribuan orang meninggalkan negeri itu.

    Baca: Myanmar Tolak Tim PBB Pencari Fakta Rohingya

    Dalam sebuah pernyataan yang diunggah melalui akun Twitter, peraih hadiah Nobel itu mengatakan kepada rekan sesama penerima penghargaan perdamaian tersebut bahwa dunia sedang menunggu aksi nyata yang dilakukannya terhadap puluhan ribu orang yang mengungsi ke Bangladesh.

    Intervesi Yousafzai itu disampaikan beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, memperingatkan Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, perlakuan buruk terhadap etnis minoritas dapat menodai reputasi negeri itu.

    Baca: Myanmar Nyatakan Pemberontak Rohingya, ARSA, Teroris

    Pejabat keamanan Myanmar dan pemberontak Rohingya saling tuding mengenai pembakaran desa dan pembunuhan massa terhadap penduduk sipil di negara bagian Rakhine, sebelah barat daya negara.

    Terkait dengan desakannya untuk mengakhiri kekerasan di Myanmar, Yousafzai mengatakan bahwa hatinya seperti tercabik-cabik setelah membaca sejumlah laporan mengenai pembunuhan terhadap anak-anak oleh pasukan keamanan dan mendesak pemerintah Myanmar menjamin keamanan warga negaranya.

    Dia menulis, "Beberapa tahun lalu, saya mengutuk berkali-kali tragedi kemanusiaan dan perlakuan memalukan ini."

    "Saya masih menunggu langkah yang diambil oleh rekan penerima Nobel itu. Dunia sedang menunggu dan muslim Rohingya juga menunggu aksinya."

    THE GUARDIAN | CHOIRUL AMINUDDIN
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.