52 Tentara Yaman Tewas Dibom Saat Antre Ambil Gaji  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak perempuan menangis saat digendong oleh ibunya setelah serangan koalisi Arab Saudi yang menyerang penyimpanan senjata tentara Yaman di Sanaa, 11 Mei 2015. REUTERS/Mohamed al-Sayaghi

    Seorang anak perempuan menangis saat digendong oleh ibunya setelah serangan koalisi Arab Saudi yang menyerang penyimpanan senjata tentara Yaman di Sanaa, 11 Mei 2015. REUTERS/Mohamed al-Sayaghi

    TEMPO.CO, Aden - Aksi bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 52 tentara di sebuah pangkalan militer di kota pelabuhan Aden, Yaman Selatan, Minggu, 18 Desember 2016. Peristiwa mengenaskan ini terjadi saat para tentara sedang antre untuk mengambil gaji mereka. “Aksi itu terjadi di pangkalan militer di Distrik Khor Maksar. Setidaknya 60 tentara lainnya terluka,” ujar pejabat setempat, Minggu.

    Seorang pejabat militer mengatakan pelaku aksi bom bunuh itu menyelinap di antara para tentara yang berkumpul di luar kediaman Kolonel Nasser Sarea, komandan pasukan khusus. Kediaman Sarea berada di Distrik Al-Arish, tak jauh dari pangkalan militer Al-Sawlaban. “Pelaku pengeboman mengambil keuntungan dari kerumunan tentara dengan meledakkan dirinya di antara mereka,” ujar Sarea.

    Gambar dari lokasi ledakan menunjukkan banyaknya noda darah dan sepatu yang berserakan di tanah berpasir tersebut. Serangan aksi bom bunuh diri ini terjadi satu minggu setelah serangan oleh kelompok ISIS yang menewaskan 50 tentara.

    Aden merupakan ibu kota sementara pemerintah Yaman di pengasingan di Arab Saudi yang diakui dunia internasional. Pemerintah Yaman terus berjuang melawan jihadis yang tetap aktif di selatan dan timur negara semenanjung Arab ini. Milisi Al-Qaidah dan ISIS mengambil keuntungan dari konflik antara pemerintah dan pemberontak Houthi Yaman yang menguasai Ibu Kota Sanaa.

    | CHANNEL NEWS ASIA | TELEGRAPH | SUKMA LOPPIES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.