Singapura Waspadai Serangan Teroris dari Wilayah Indonesia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan kawasan Gardens by The Bay dari atas dek observasi Sands SkyPark, Marina Bay Sands, Singapura, 6 Februari 2016. Hotel dan pusat hiburan Marina Bay Sands secara resmi dibuka pada 23 Juni 2010. TEMPO/Charisma Adristy

    Pemandangan kawasan Gardens by The Bay dari atas dek observasi Sands SkyPark, Marina Bay Sands, Singapura, 6 Februari 2016. Hotel dan pusat hiburan Marina Bay Sands secara resmi dibuka pada 23 Juni 2010. TEMPO/Charisma Adristy

    TEMPO.COJakarta - Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen mengatakan Singapura mewaspadai serangan udara dari kelompok radikal. Ia mengasumsikan alur serangan itu datang dari Pulau Batam, Indonesia, berupa peluncuran roket dengan target Marina Bay. Namun upaya itu telah digagalkan lebih dulu oleh kepolisian Indonesia. 

    Hen menambahkan, sejak peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat, Angkatan Bersenjata Singapura telah menaruh perhatian lebih terhadap ancaman serangan udara. “Telah ditingkatkan sistem pertahanan udara Singapura,” katanya, seperti dilansir Channel News Asia, Jumat, 5 Agustus 2016. 

    Hen berkomentar setelah enam tersangka dinyatakan berada di balik alur tersebut. Mereka diduga berasal dari kelompok teror KGR, Katibah, dan GR. Mereka telah ditangkap di Indonesia, termasuk pemimpinnya, Gigih Rahmat Dewa, yang disebut berada di balik plot untuk menyerang Marina Bay.

    Dalam sebuah unggahan Facebook pada Jumat malam kemarin, Hen menulis bahwa Singapura harus mewaspadai kemungkinan lebih dari satu plot sel-sel teror lain mencari cara dan amunisi baru untuk menembus pertahanan Singapura.

    Menurut Hen, terorisme adalah masalah global dan tidak ada negara yang kebal. Ia mengajak penduduk Singapura dan lainnya tetap waspada dan terus meningkatkan sistem pertahanan. Yang paling penting, ucap dia, harus tetap bersatu untuk melindungi apa yang diutamakan di rumah. 

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.