Gaji Besar, Alasan Banyak WNI Bekerja di Hong Kong  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jesse Lorena Ruri, TKI yang menjadi korban pembunuhan Bankir asal Inggris, Rurik Jutting di Hong Kong. (enterprise news and pictures)

    Jesse Lorena Ruri, TKI yang menjadi korban pembunuhan Bankir asal Inggris, Rurik Jutting di Hong Kong. (enterprise news and pictures)

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua tenaga kerja Indonesia (TKI), Sumarti Ningsih dan Jesse Lorena Ruri alias Seneng Mujiasih, adalah dua dari ribuan pekerja asal Indonesia yang mengadu nasib di Hong Kong. Berdasarkan data Amnesty Internasional, kebanyakan dari mereka tergiur dengan gaji besar. Namun, ketika di sana mereka malah diperlakukan seperti budak saat menjadi pekerja rumah tangga.

    "Sekitar setengah dari 300 ribuan pekerja rumah tangga migran di Hong Kong berasal dari Indonesia dan hampir semuanya adalah perempuan," kata Norma Kang Muico, peneliti hak migran di Asia-Pasifik dari Amnesty International, seperti dilaporkan News.com.au, Kamis, 6 November 2014. (Baca: Waspadai, Modus Pelaku Trafficking Menjebak TKI)

    Amnesty menemukan kebanyakan pekerja wanita mengalami kekerasan oleh majikan atau atasannya selama bekerja di Hong Kong. Mereka juga dikenakan jam kerja yang tidak normal, bahkan kadang tanpa libur.

    "Badan dan broker yang bertanggung jawab kepada pekerja juga sering menipu dengan iming-iming gaji besar. Mereka meminta dokumen, identitas, dan properti lain sebagai jaminan. Mereka menjebak para pekerja wanita dengan utang yang dikenakan sejak awal pelatihan," kata Mucio.

    Agen perekrutan Hong Kong juga sering gagal menyediakan dokumen resmi bagi para pekerja, termasuk kontrak kerja, idenitas, dan asuransi yang harusnya diberikan. Padahal, dokumen itu diperlukan para pekerja jika ada kejadian yang tidak diduga, seperti kasus pembunuhan yang dialami Ningsih dan Jesse.

    Menurut Muico, kondisi ini disebabkan karena terjadi kegagalan sistemik, baik dari pemerintah Hong Kong dan Indonesia untuk melindungi para pekerja. Beberapa laporan bahkan menemukan status perempuan sebagai tenaga kerja lebih mungkin disalahgunakan. (Baca: Bagus, Kinerja TKI Korban Pembunuhan di Hong Kong)

    Temuan itu didasarkan hasil wawancara mendalam kepada 97 pekerja rumah tangga Indonesia. Pengumpulan data juga didukung dengan survei kepada seribu wanita yang tergabung dalam Serikat Buruh Migran Indonesia.

    RINDU P. HESTYA | NEWS.COM.AU | AMNESTY.ORG

    Berita Lain:
    Hina Al-Quran, Sepasang Umat Kristen Dibakar
    Pembunuh Dua TKI Suka Seks Menyimpang
    Sebelum Dibunuh, TKI Jessie Pamit Berpesta


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.