Surat Reyhaneh Jabbari, Korban yang Dihukum Mati  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah aktivis perempun dari kelompok hak asasi wanita melakukan aksi protes menentang eksekusi terhadap seorang wanita Iran, di luar gedung Kedutaan Besar Iran di Berlin, Jerman, Senin 27 Oktober 2014. Reyhaneh Jabbari, 26 tahun, tahanan pembunuhan seorang pria yang mencoba melecehkannya dihukum gantung di Teheran, Iran, Sabtu lalu. REUTERS/Fabrizio Bensch

    Sejumlah aktivis perempun dari kelompok hak asasi wanita melakukan aksi protes menentang eksekusi terhadap seorang wanita Iran, di luar gedung Kedutaan Besar Iran di Berlin, Jerman, Senin 27 Oktober 2014. Reyhaneh Jabbari, 26 tahun, tahanan pembunuhan seorang pria yang mencoba melecehkannya dihukum gantung di Teheran, Iran, Sabtu lalu. REUTERS/Fabrizio Bensch

    TEMPO.CO, Tehran - Reyhaneh Jabbari, seorang wanita Iran yang dihukum gantung karena membunuh pria yang memperkosanya, meninggalkan surat perpisahan untuk ibunya, Sholeh Parava. Dalam surat itu, Jabbari meminta agar semua organ tubuhnya disumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan. (Baca: Korban Pemerkosaan, Wanita Iran Malah Dihukum Gantung)

    "Saya tidak ingin membusuk di dalam tanah. Saya tidak ingin mata dan hati saya berubah menjadi debu. Saya mohon, setelah dihukum gantung, berikan jantung, ginjal, mata, tulang, dan apa pun yang dapat ditransplantasikan kepada orang yang membutuhkan sebagai hadiah," tulis Jabbari dalam suratnya yang diterjemahkan oleh Dewan Nasional Perlawanan Iran, seperti dilaporkan The Telegraph, Senin, 27 Oktober 2014.

    Sebelum dieksekusi, Jabbari dipenjara selama tujuh tahun. Jabbari dituduh membunuh Morteza Abdolali Sarbandi, pria yang memperkosanya, dengan sebuah pisau lipat. Namun, wanita 26 tahun itu yakin Sarbandi dibunuh oleh orang lain setelah memperkosa dirinya.

    Keputusan menjatuhkan hukuman mati kepada Jabbari diberikan hakim pada akhir September lalu. Sabtu lalu, Jabbari akhirnya dihukum gantung dan menurut laporan akan dimakamkan di makam penjara Evin Prison atau Shahr-e Ray.

    "Ibuku, Sholeh tersayang. Jangan menangis. Situasi ini sungguh tidak adil untuk saya, tapi pengadilan Allah adalah yang paling adil. Mari kita lihat apa yang Allah inginkan. Aku ingin memelukmu sampai akhir hidup. Aku sangat mencintaimu," tulis Jabbari dalam suratnya bertanggal 1 April 2014.

    Keputusan hakim sebenarnya telah diportes oleh Amnesty International. Sebuah petisi internasional telah mengumpulkan 200 ribu tanda tangan yang mengecam rencana putusan pengadilan Iran saat itu. Namun, efek petisi ini hanya sementara karena hanya mampu menunda eksekusi Jabbari yang harusnya dilakukan pada April lalu.

    RINDU P. HESTYA | THE TELEGRAPH

    Berita Lain:

    Setop Selfie demi Kesehatan Anda
    Dalam 24 Jam, KPK Spanyol Tangkap 51 Koruptor
    Bahaya Ebola, Australia Setop Berikan Visa Migrasi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.