Iran Klaim Bomnya Lebih Berbahaya daripada Ibu Semua Bom Amerika

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bom jatuh di Afghanistan. dailystar.co.uk

    Bom jatuh di Afghanistan. dailystar.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Iran mengklaim memiliki bom yang lebih besar dan berbahaya dibanding dengan bom Amerika Serikat yang disebut sebagai Mother of All Bombs atau Ibu Semua Bom. 

    Awal tahun ini presiden Amerika Serikat Donald Trump mengejutkan dunia setelah menggunakan bom Blower Air Roda Besar seberat 9,8 ton yang juga dikenal sebagai Ibu Semua Bom. Perangkat yang berukuran dua kali ukuran bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang itu, melenyapkan 36 milisi ISIS yang bersembunyi di sebuah bunker bawah tanah dalam satu tembakan.

    Baca: Iran Uji Coba Rudal Meskipun Ditekan Amerika Serikat

    Tapi musuh bebuyutan Amerika Serikat, Iran kini mengklaim memiliki bom sejenis namun memiliki ukuran yang lebih besar seberat 10 ton yang disebutnya sebagai FOAB atau Father of All Bom (Bapak Semua Bom).

    Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Komandan Angkatan Udara Aerospace dari Korps Garda Republik Islam (IRGC), mengatakan bahwa berdasarkan proposal oleh Angkatan Udara Aerospace IRGC, Industri Pertahanan Iran telah memproduksi sebuah bom seberat 10 ton.

    "Bom-bom ini ada pada kita. Dan bisa diluncurkan dari pesawat Ilyushin dan bom itu bersifat sangat merusak," kata Hajizadeh, seperti yang dilansir Daily Star.

    Baca: Iran dan Rusia Kutuk Serangan Amerika ke Suriah

    Saingan lain Washington dan merupakan sekutu Iran, Rusia juga mengklaim memiliki bom serupa dengan daya ledakan yang berkali-kali lebih besar. Rusia pernah menampilkan 'Father Of All Bombs' yang luar biasa itu pada 2007.

    Vladimir Putin juga memiliki Bapak Semua Bom - yang empat kali lebih kuat dari MOAB milik Trump. Dengan bobot seberat 7,8 ton, itu lebih ringan dari bom Amerika, namun bisa menciptakan ledakan setara 44 ton TNT. Itu jauh lebih besar dari hasil ledakan 11-ton MOAB.

    Namun, Hajizadeh menegaskan bahwa bahan peledak itu dibuat di Iran bukan Rusia. Dan itu lebih berat dari pada milik Putin dan Trump.

    Baca: Peringatan Revolusi Iran, Massa Kecam Amerika Serikat

    Amerika Serikat dan Iran kini menghadapi krisis terkait perjanjian nuklir. Sejak pemilihannya, Trump telah mengisyaratkan bahwa akan membatalkan sebuah kesepakatan yang Barack Obama buat untuk mengakhiri program nuklir Iran.

    Pemerintahan Trump telah menuduh Iran melanggar kesepakatan dengan uji coba rudal dan peluncuran roket. Hubungan keduanya juga diperburuk dengan perbedaan dukungan terhadap faksi-faksi yang berpeerang di Suriah. Iran mendukung presiden yang dianggap diktator oleh Amerika Serikat, Bashar al-Assad.

    DAILY STAR|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.