ISIS Kuasai Kota Kristen Terbesar di Irak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pria yang diduga sebagai pemimpin militan ISIS,  Abu Bakr al-Baghdadi terlihat menggunakan arloji mewah saat memimpin khotbah salat Jumat di sebuah masjid di Mosul, Irak, 5 Juli 2014. Peristiwa ini diketahui dari rekaman video yang dipublikasikan ke internet. Dailymail.co.uk

    Pria yang diduga sebagai pemimpin militan ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi terlihat menggunakan arloji mewah saat memimpin khotbah salat Jumat di sebuah masjid di Mosul, Irak, 5 Juli 2014. Peristiwa ini diketahui dari rekaman video yang dipublikasikan ke internet. Dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Bagdad - Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menguasai kota Kristen terbesar di Irak, Qaraqosh, ketika pasukan Kurdistan melarikan diri bersama warga setempat dan para pendeta Kristen. Kabar tersebut diwartakan kantor berita Agence France-Presse, Kamis, 7 Agustus 2014.

    "Saya baru tahu bahwa Kota Qaraqosh, Tal Kayf, Bartella, serta Karamlesh sudah tak ada penghuninya. Kota-kota itu telah dikuasai oleh kaum militan," kata Joseph Thomas, seorang uskup di Kirkuk dan Sulaimaniyah, kepada AFP.

    Sejumlah warga yang dihubungi AFP membenarkan bahwa kawasan di utara Irak, rumah terbesar bagi komunitas Kristen, telah jatuh ke tangan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

    Setelah menguasai kota-kota tersebut, ISIS memaksa umat Kristen meninggalkan rumah mereka. Sebelumnya, pada bulan lalu, ISIS juga mengusir umat Kristen yang tinggal di kota utama Mosul. Sebagian umat Kristen pergi menuju Arbil, ibu kota otonomi Kurdistan.

    AL ARABIYA | CHOIRUL

    Terpopuler:
    Ini Rapor Kepala Dinas Pendidikan DKI Lasro Marbun
    Ahok Curiga, Belum Ada Pejabat DKI yang Dipecat
    Hakim Wahiduddin Koreksi Gugatan Prabowo-Hatta
    Migrant Care Laporkan Enam Anggota DPR Pemilik PJTKI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.