Sudan Menghukum Mati Perempuan Murtad  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Popular Defence Forces (PDF), Sudan. REUTERS

    Anggota Popular Defence Forces (PDF), Sudan. REUTERS

    TEMPO.CO, Khartoum - Pengadilan Sudan bakal menjatuhkan hukuman mati kepada seorang perempuan berusia 27 tahun jika hingga Kamis, 15 Mei 2014, tetap memutuskan pindah agama menjadi seorang Kristen. Hal tersebut dikatakan oleh sumber di pengadilan sebagaimana dilansir Al Jazeera, Rabu, 14 Mei 2014.

    Perempuan tersebut adalah Mariam Yahya Ibrahim. Dia didakwa murtad alias keluar dari agama Islam karena akan menikah dengan seorang pria Kristen. Dalam hukum Sudan, seseorang akan dihukum mati jika murtad sebagaimana berzina.

    Menurut laporan kantor berita Reuters, kasus Mariam ini pertama kali terdengar di Sudan. "Keputusan akhir pengadilan Sudan akan diumumkan pada Kamis, 15 Mei 2014," Reuters menulis.

    Keputusan pengadilan Sudan tersebut dikecam keras oleh sejumlah aktivis hak asasi manusia. Mereka berpendapat bahwa pemerintah Sudan seharusnya menghargai kebebasan iman seseorang. "Kasus ini benar-benar mengganggu kebebasan pribadi," ucap aktivis Sudan Change Now Movement dalam sebuah pernyataan.

    Sejumlah kedutaan besar negara-negara Barat juga menyampaikan penyesalannya yang mendalam atas keputusan pengadilan Sudan. "Kami meminta pemerintah Sudan menghargai hak kebebasan beragama, termasuk salah satu hak itu adalah pindah agama," kata duta besar Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Belanda dalam jumpa pers bersama.

    Pada kesempatan tersebut, perwakilan negara-negara Barat mendesak otoritas hukum Sudan melakukan pendekatan terhadap kasus Mariam dengan adil dan kasih sayang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat Sudan.

    Berbicara kepada kantor berita AFP, Menteri Penerangan Sudan Ahmed Bilal Osman mengatakan, "Keputusan ini tidak hanya di Sudan. Di Arab Saudi, di seluruh negara-negara Islam, pemerintah tidak mengizinkan seluruh warganya yang beragama Islam pindah agama."

    Pemerintah Presiden Omar Hassan al-Baashir saat ini sedang dihadapkan pada masalah ekonomi dan politik setelah Sudan Selatan berpisah dari negeri itu pada 2011. Sudan Selatan merupakan sumber ekonomi utama karena kaya minyak.

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    Berita Terpopuler:
    Gus Ipul Anggap Wajar Sikap Rhoma Tolak Jokowi
    Artis JR Terjerat Kasus Narkoba
    Pristono: Jokowi Tahu Proses Transjakarta Berkarat
    Unilever akan Ganti Kerugian Taman Kota Bandung
    Sutan Bhatoegana Jadi Tersangka KPK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.