Venezuela Bebaskan Kapal Teknik Perdana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Helikopter Angkatan Laut Venezuela mendarat di kapal perang Rusia dalam latihan bersama di Laut Karibia, Venezuela dekat dengan perairan Amerika Serikat (3/12). Foto: AFP/ ABN - Maiquel Torcatt

    Helikopter Angkatan Laut Venezuela mendarat di kapal perang Rusia dalam latihan bersama di Laut Karibia, Venezuela dekat dengan perairan Amerika Serikat (3/12). Foto: AFP/ ABN - Maiquel Torcatt

    TEMPO.CO, Kuala Lumpur – Kapal Malaysia, Teknik Perdana, beserta ke-36 awak kapalnya yang ditahan Pemerintah Venezuela karena tuduhan melanggar wilayah telah dibebaskan.

    Kapal  milik SapuraKencana Petroleum Berhad ditahan di Pulau Margarita sejak Kamis, 10 Oktober 2013 lalu.  Dari 36 ABK, 14 di antaranya berkewarganegaraan Indonesia.

    Pembebasan terjadi tak lama setelah pertemuan antara Presiden dan CEO Tan Sri Shahril Shamsuddin dan Duta Besar Venezuela untuk Malaysia, Manuel Antonio Guzman, Senin, 14 Oktober 2013.

    “Dalam pertemuan, Dubes Venezuela menjamin para awak aman dan diperlakukan dengan baik oleh otoritas di sana,” kata Shahril dalam pernyataannya.

    Kepada Shahril, Guzman menjelaskan bahwa RV Teknik Perdana dibawa ke Pulau Margarita dengan alasan keamanan nasional. Di sana, otoritas memeriksa dokumentasi dan peralatan untuk menyakinkan bahwa kapal tersebut benar-benar sedang melakukan riset.

    Kedutaan Besar Indonesia di Caracas juga menyatakan akan membantu para ABK Indonesia.

    “ABK Indonesia dalam keadaan baik. Besok staf KBRI Caracas akan ke Isla Margarita untuk membantu pihak Venezuela jadi penerjemah untuk para ABK kita,” kata Duta Besar Indonesia untuk Venezuela, Prianti Gagarin Djatmiko-Singgih, dalam pernyataan yang dilansir Kemlu kemarin.

     Ia menjelaskan, kapal eksplorasi minyak milik Malaysia tersebut disewa oleh TDI-Brooks International, sebuah perusahaan riset yang berkedudukan di Texas, Amerika Serikat.  Perusahaan riset itu bekerja untuk perusahaan minyak Anadarko Petroleum.

    Perusahaan tersebut memperoleh izin dari pemerintah Guyana untuk mengeksplorasi minyak di blok Roraima, sebuah perairan laut, pada Juni lalu. Namun Venezuela menahan kapal tersebut karena dianggap melanggar zona reklamasi dan beroperasi di wilayah mereka, bukan wilayah Guyana.

    Dari 36 awak kapalnya, 14 di antaranya adalah warga negara Indonesia, 5 warga Amerika Serikat, 2 warga Inggris, 2 warga Rusia, 2 warga Prancis, 5 warga Ukraina, 2 warga Brasil, dan 5 warga Malaysia.

    Venezuela dan Guyana telah lama memperebutkan wilayah Essequibo, yang berada di wilayah perbatasan kedua negara. Venezuela menyebut daerah itu sebagai zona reklamasi, tapi pada prakteknya wilayah tersebut berfungsi sebagai wilayah Guyana.

    THE SUN DAILY | REUTERS | NBC | NATALIA SANTI

    Berita Terpopuler:
    Tanah Abang Macet Lagi, Jokowi Kecewa
    Iklan Sepatu 'Anti-Islam' Dikalahkan Pengadilan 
    Gereja Tolak Upacara Pemakaman Mantan Kapten Nazi
    Kampung Rambutan Masuk Wilayah Mana Pak Jokowi?
    Ini Dua Buron Pembunuhan Holly Angela


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Raoul Follereau Mengusung Kepedulian Terhadap Penderita Kusta

    Raoul Follereau mengusulkan kepedulian terhadap kusta. Perjuangannya itu akhirnya diakui pada 25 Januari 1954 dan ditetapkan sebagai Hari Kusta.