Kamis, 22 Februari 2018

Skandal Mata-mata, dari Anna Chapman sampai Fogle

Oleh :

Tempo.co

Rabu, 15 Mei 2013 09:18 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Skandal Mata-mata, dari Anna Chapman sampai Fogle

    Cynthia Murphy alias Lydia Guryev (kiri atas), Patricia Mills alias Natalia Pereverzeva, Anna Chapman, Tracey Lee Ann Foley alias Elena Vavilova, Vicky Pelaez, Richard Murphy (kiri bawah) alias Vladimir Guryev, Michael Zottoli alias Mikhail Kutsik, Mikhail Semenko, Donald Howard Heathfield alias Andrey Bezrukov dan Juan Lazaro alias Mikhail Vasenkov. AP/U.S. Marshals

    TEMPO.CO, Moskow - Penangkapan agen dinas Rahasia Amerika Serikat CIA (Central Intelligence Agency) Ryan Fogle di Moskow, 13 Mei 2013, menjadi skandal spionase pertama dalam tahun ini yang melibatkan dua negara besar: Amerika dan Russia. Kasus ini akan membayangi hubungan Russia dengan negara Barat di Millenium baru, setelah Perang Dingin sudah lama berakhir.

    Salah satu skandal mata-mata terbesar antara Moskow dan Washington, paska berakhirnya Perang Dingin, terjadi tiga tahun lalu ketika FBI membongkar sebuah jaringan tidur mata-mata Rusia. Sepuluh orang --termasuk Anna Chapman, yang kini menjadi model dan selebriti terkenal- yang ditangkap di Amerika Serikat pada bulan Juni 2010. Tak lama setelah itu, mereka diusir dari Amerika kemudian dan dipertukarkan dengan empat mata-mata Amerika yang menjalani hukuman penjara di Rusia. Pertukaran tahanan --yang terbesar sejak runtuhnya Uni Sovyet dan kini menjadi Russia-- berlangsung di Wina, 9 Juli 2010.

    Banyak agen Rusia telah bekerja menyamar di AS selama bertahun-tahun dan memiliki rumah dan keluarga sana. Pada saat Anna Chapman dan kawan-kawannya kembali ke Rusia, mereka diberi penghargaan tertinggi dari negara. Skandal ini membawa ketenaran bagi Chapman, yang setelah itu dia berpose untuk majalah pria Maxim dan sekarang bekerja sebagai presenter acara TV di saluran Rusia.

    Anggota ke-11 jaringan mata-mata Russia ditangkap di Siprus, tapi menghilang setelah dibebaskan dengan jaminan. Keberadaan mata-mata itu, termasuk nama aslinya, masih belum diketahui oleh publik. Pria berusia pertengahan lima puluhan ini diduga telah menggunakan identitas seorang anak Kanada, Christopher Metsos, yang meninggal pada usia 5 tahun.

    Pada tahun yang sama, Kontra-intelijen Rusia juga menangkap warganya yang membocorkan rahasianya kepada pentagon, kantor Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Pada bulan Mei 2010, warga Russia itu, Gennady Sipachev dinyatakan bersalah karena menyerahkan peta militer rahasia kepada Pentagon. Penyelidik percaya AS bisa menggunakan peta itu untuk membuat target rudal jelajah Amerika terhadap situs di Russia lebih akurat. Sipachev dijatuhi hukuman hanya empat tahun dari ancaman 20 tahun penjara setelah ia bersedia bekerja sama dengan penyelidik.

    Masih terkait soal peta militer, Mei 2012 lalu, Kolonel Rusia Vladimir Lazar mendapat hukuman 12 tahun penjara dan kehilangan jabatannya karena menjadi mata-mata untuk Amerika. Menurut jaksa, pada tahun 2008 ia membeli lebih dari 7.000 gambar elektronik dari peta topografi Rusia dari Sipachev. Dia kemudian membawa dokumen-dokumen rahasia itu ke Belarus dan menyerahkannya kepada mata-mata militer AS Aleksandr Lesment, yang tinggal di Estonia.

    Pada bulan Juni 2012, sebuah pengadilan militer Moskow menghukum kolonel dinas rahasia Russia, FSB, Valery Mikhailov dengan hukuman 18 tahun penjara karena kasus pengkhianatan tingkat tinggi. Penyelidik mengatakan, saat bertugas di FSB, Mikhailov - atas inisiatifnya sendiri- menghubungi perwira intelijen CIA di Moskow dan menyerahkan rahasia negara Rusia kepada mereka.

    Skandal mata-mata besar lainnya terjadi tahun 2000, ketika Paus Edmond, mantan perwira intelijen angkatan laut AS ditangkap di Moskow karena membeli informasi tentang torpedo Russia, VA-111 Shkval (Squall) dari seorang profesor Russia, Anatoly Babkin. Edmond menjadi orang Amerika pertama yang dihukum karena spionase di Rusia sejak kasus Gary Powers pada tahun 1960. Edmon dijatuhi hukuman 20 tahun penjara tetapi diampuni oleh Vladimir Putin kurang dari setahun setelah sidang vonisnya.

    Intelijen AS tidak menghentikan usahanya untuk mendapatkan informasi tentang torpedo Squall. Pada tahun 2002, dua agen CIA yang bekerja menyamar sebagai diplomat AS ditahan di ibukota Rusia karena soal serupa.

    Pada tahun 2001, agen FBI Robert Hanssen ditangkap karena menjadi mata-mata Russia (sebelumnya Uni Sovyet) selama lebih dari 15 tahun. Dia ditahan di Virginia setelah memasok data rahasia untuk intelijen Rusia. Orang inilah yang membocorkan nama-nama puluhan mata-mata Amerika, dan ia menyerahkan lebih dari 6.000 halaman data rahasia ke Moskow.

    Hanssen juga yang mengungkapkan soal program kontra-intelijen Amerika serta rencana aksi Amerika dalam menghadapi kemungkinan serangan nuklir. Berkat dia, Moskow diberitahu adanya sebuah terowongan yang digali FBI di bawah Kedutaan Soviet di Washington, yang dibangun pada tahun 1977.

    Sebagai buntut dari skandal besar ini, empat diplomat Rusia diusir dari AS dan 46 lainnya juga diminta untuk meninggalkan daratan Amerika. Rusia, sebagai balasannya, mengumumkan untuk mengusir 50 diplomat Amerika dari wilayahnya. Pada akhirnya hanya empat pegawai kedutaan Amerika yang meninggalkan Moskow. Pada bulan Mei 2002, Hanssen dijatuhi hukuman 15 hukuman seumur hidup berturut-turut.

    Salah satu drama mata-mata paling menarik dalam satu dekade ini berlangsung pada tahun 2006, saat televisi pemerintah Rusia merilis video pengintaian yang menunjukkan diplomat Inggris tertangkap tangan saat mereka menggunakan gadget teknologi tinggi tersembunyi di dalam batu palsu untuk bertukar informasi dengan agen dinas rahasia Inggris (Secret Intelligence Service), yang akrab dikenal dengan MI6.

    Menurut laporan TV itu, diperlukan tidak lebih dari hanya beberapa detik untuk mengunduh dan mengunggah data ke perangkat canggih itu. Kontraintelijen FSB menemukan batu mata-mata (spy rock) itu ditempatkan di sebuah taman di pinggiran Moskow. Soal ini sempat memicu pertikaian diplomatik antara Russia dan Inggris. Barulah pada awal tahun 2012 Inggris mengakui bahwa pihaknya berada di balik 'spy rock' itu.

    Russia Today | Abdul Manan

    Berita Terkait:
    Russia Perintahkan Pengusiran Mata-mata CIA
    Inilah Isi Surat Agen CIA yang Disita Rusia
    Ketahuan Rekrut 'Intel' Agen CIA Ditahan di Moskow
    Dinas Rahasia Russia Tangkap Agen CIA


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Vino G Bastian, Sherina Munaf, dan Para Pemeran Wiro Sableng 212

    Bersama Sherina Munaf dan Marsha Timothy, Vino G Bastian menghidupkan kembali tokoh penggenggam Kapak Maut Naga Geni 212 dalam film Wiro Sableng.