Rusia Buka Kembali Jalur Feri ke Korea Utara

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua kapal serbu amfibi pesanan Rusia, Sevastopol (kiri) dan Vladivostok bersandar di pelabuhan Saint-Nazaire, Prancis, 20 Desember 2014. Prancis belum mengirim kapal kelas Mistral tersebut karena tekanan dari Amerika Serikat dan negara-negara NATO. JEAN-SEBASTIEN EVRARD/AFP/Getty Images

    Dua kapal serbu amfibi pesanan Rusia, Sevastopol (kiri) dan Vladivostok bersandar di pelabuhan Saint-Nazaire, Prancis, 20 Desember 2014. Prancis belum mengirim kapal kelas Mistral tersebut karena tekanan dari Amerika Serikat dan negara-negara NATO. JEAN-SEBASTIEN EVRARD/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta- Rusia telah membuka kembali jalur lautnya ke Korea Utara setelah sekitar 2 bulan lamanya ditutup. Seperti yang dilansir Reuters pada 17 Oktober 2017, kepala perusahaan yang mengoperasikan rute perjalanan feri antara Vladivostok, Rusia dan Korea Utara menjelaskan pembukaan kembali jalur feri tersebut.

    "Kapal Mangyonbong yang berbendera Korea Utara meninggalkan pelabuhan Rusia pada hari Minggu menuju Rajin," kata Vladimir Baranov, D irektur jenderal perusahaan induk Mangyonbong.

    Baca: Rusia: Korea Utara Luncurkan Rudal Jangkau Amerika Minggu Depan

    Baranov mengatakan,  kapal itu hanya membawa kargo dan tidak ada penumpang untuk saat ini, meskipun perusahaan sedang dalam pembicaraan dengan pihak pelabuhan untuk melanjutkan lalu lintas penumpang.

    Jalur feri Vladivostok-Rajin, satu-satunya di antara kedua negara, dibuka pada Mei lalu untuk membawa barang dan penumpang yang didominasi turis Cina.

    Kemudian berhenti beroperasi pada Agustus karena pelabuhan di Vladivostok menolak memberikan layanan ke Mangyonbong setelah perusahaan induknya gagal membayar biaya sandar.

    Layanan feri itu diluncurkan meskipun ada seruan Amerika Serikat untuk membatasi hubungan dengan Pyongyang karena program nuklir dan rudalnya.

    Baca: Korea Utara Dihukum, Trump Berterima Kasih ke Cina dan Rusia

    Pada hari Senin, 16 Oktober 2017, Katina Adams, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika mengatakan, Washington mengharapkan semua negara anggota PBB termasuk Rusia, untuk sepenuhnya menerapkan sanksi PBB terhadap Korea Utara.

    "Kami mendesak negara-negara untuk mengambil langkah tambahan untuk menerapkan tekanan maksimum, termasuk dengan memutuskan hubungan ekonomi dan diplomatik," kata Adams.

    Uji coba nuklir Pyongyang dan peluncuran rudal telah menimbulkan ketegangan global dan mendorong beberapa putaran sanksi internasional di Dewan Keamanan PBB.

    Rusia telah mengecam pengujian senjata Korea Utara namun menentang usaha pimpinan Amerika untuk mengisolasi Korea Utara secara ekonomi.

    Presiden Rusia, Vladimir Putin pada Senin, 16 Oktober 2017 telah menandatangani sebuah dekrit yang memberlakukan pembatasan di Korea Utara guna mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB sebagai tanggapan atas uji coba rudal Pyongyang pada akhir 2016.

    REUTERS|SBS NEWS|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?