Ratu Diminta Akhiri Kemelut Papua Nugini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Papua Nugini, Michael Somare setelah selesai memberikan karangan bunga di depan makam pahlawan nasional Dr. Jose Rizal di Luneta park, Manila, (29/3). ANTARA/REUTERS-John Javellana

    Perdana Menteri Papua Nugini, Michael Somare setelah selesai memberikan karangan bunga di depan makam pahlawan nasional Dr. Jose Rizal di Luneta park, Manila, (29/3). ANTARA/REUTERS-John Javellana

    TEMPO Interaktif, PORT MORESBY:-Suhu politik di Papua Nugini kemarin semakin panas. Salah satu perdana menteri, Peter O'Neill, memerintahkan polisi mengambil alih kantor-kantor pemerintahan yang dikuasai rivalnya, Michael Somare.

    O'Neill sementara ini bermarkas di gedung parlemen Papua Nugini.
    Ia mengaku pihaknya telah mengambil alih kantor percetakan dan berencana merebut kantor Departemen Keuangan, kantor Perdana Menteri, dan gedung pemerintah.

    Posisi O'Neil berada di atas angin. Kemarin sekitarnya 500 orang berunjuk rasa di gedung parlemen mendukungnya. Massa mendesak Somare segera mengundurkan diri agar kisruh politik di negara kaya mineral itu segera berakhir.

    Berbagai pihak pun mulai meminta Ratu Elizabeth II dari Inggris, sebagai Kepala Negara Papua Nugini, turun tangan menangani kemelut politik ini. Sebab, ia menjadi satu dari sedikit orang yang dapat menangani krisis politik itu.

    "Perannya menjadi besar sejak anggota parlemen menolak gubernur jenderal yang dipilih Ratu. Tapi saya pesimistis Ratu dapat turun tangan karena situasi sangat rumit," ujar Anne Twomey, Direktur Reformasi Konstitusi Sydney Law School.

    l AAP | ABC | THE TELEGRAPH | SYDNEY MORNING HERALD | SITA PLANASARI A.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.