Keluarga Penambang Selandia Baru Frustrasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ledakan pertambangan batu bara di Selandia Baru. Foto: dailymail.co.uk

    Ledakan pertambangan batu bara di Selandia Baru. Foto: dailymail.co.uk

    TEMPO Interaktif, Wellington -Tim evakuasi 29 penambang di Tambang Pike River Coal Ltd di Greymouth, Selandia Baru, kemarin berencana mengerahkan robot penjinak bom milik Angkatan Darat Selandia Baru guna memastikan kondisi penambangan dalam keadaan aman. "Sebelum kami mengirim orang ke dalam," kata Kepala Tim Evakuasi Komisaris Besar Polisi Gary Knowles. 

    Robot dipakai setelah operasi penyelamatan tertunda selama dua hari akibat gas beracun--seperti karbon monoksida dan metana--yang merembes keluar pasca-ledakan di salah satu lokasi penambangan terbesar di negara itu pada Jumat pekan lalu. Para penambang itu telah berada di bawah tanah selama lebih dari 70 jam. 

    "Kondisi pasti panas dan pengap di dalam sana," kata Kepala Eksekutif Pike River Coal Ltd Peter Whittall. Katanya para penambang itu, selain dilengkapi dengan pakaian dan peralatan lengkap, diberi lampu dan oksigen, yang mengirim oksigen selama 25-30 menit dalam situasi darurat. "Setelah 24 jam bisa jadi akan habis," Whittal menambahkan. 

    Alhasil, para keluarga penambang dan warga di sana terjangkit frustrasi dan putus asa. "Jujur saja kami merasa amat tertekan," ujar salah seorang penambang senior di sana Greg Ward, seperti dikutip BBC. Terlebih, kata Ward, tim penolong belum menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan para penambang tersebut. Selama ini pun belum pernah ada kontak. 

    Lantaran tak ada kontak inilah Kombes Knowles untuk pertama kalinya menyatakan bersiap untuk yang terburuk. "Tapi kami tetap optimistis," katanya. Perdana Menteri Selandia Baru John Key pun menyampaikan hal senada. "Ada kemungkinan mereka tetap hidup," ujarnya. Whittall mengatakan pihaknya mengupayakan segenap cara. 

    "Ada robot, geophone, mengebor lubang, dan pelbagai solusi di saat bersamaan," ujar Whittall. Adapun 29 persen saham perusahaan penambangan ini dimiliki New Zealand Oil & Gas Ltd, dan sisanya Surashtra World Holdingh Private Ltd dan Gujarat NRE Coke Ltd asal India. Tahun lalu ventilasi utama penambangan ini hancur akibat dihantam batu yang runtuh. 

     ABC | TELEGRAPH | RTT | ANDREE PRIYANTO 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.