Turis Mabuk Dirawat Setelah Mencoba Menaiki Buaya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fatso, buaya yang yang di naiki turis mabuk di Australia. AP Photo/Polisi Australia Barat

    Fatso, buaya yang yang di naiki turis mabuk di Australia. AP Photo/Polisi Australia Barat

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Seorang turis Australia mabuk dirawat di rumah sakit setelah dia masuk ke sebuah taman reptil dan naik ke punggung buaya sepanjang 4,9 meter (16 kaki) bernama Fatso.

    Marah atas aksi itu, Fatso memberi orang itu gigitan besar di kaki, tetapi kemudian secara ajaib membiarkannya pergi.

    Pria 36 tahun itu menderita beberapa luka yang sangat parah pada kaki kanannya, tapi bisa naik kembali keluar dari kandang dan mencari bantuan medis.

    Insiden tersebut terjadi di Taman Buaya Broome di Australia Barat. Diketahui bahwa pria itu seorang pengunjung dari wilayah timur Australia.

    Polisi mengatakan ia telah diusir dari sebuah pub di sekitarnya karena terlalu mabuk sebelum ia memutuskan untuk melewati kawat berduri untuk melihat lebih dekat reptil itu dan memberinya sebuah tepukan. Fatso berbagi kandang dengan dua buaya betina.

    "Dia telah mencoba untuk duduk di punggungnya dan buaya itu tersinggung dengan hal itu dan berbalik dan menggigitnya di kaki kanan," kata Polisi Broome Sgt. Roger Haynes.

    "Buaya air asin ... setelah mereka mendapatkan Anda, tidak membiarkan Anda pergi," kata Haynes. "Dia beruntung telah menyelamatkan dirinya."

    Pria, yang namanya belum dirilis, dirawat di Rumah Sakit Broome, di mana ia menerima puluhan jahitan di kakinya.

    Polisi mengatakan ia bisa dikenakan pelanggaran.

    Buaya air asin adalah reptil terbesar di dunia dan dapat tumbuh hingga 23 kaki. Mereka  menjadi semakin umum di utara Australia yang tropis sejak perburuan yang hampir memunahkan spesies itu dilarang pada tahun 1971.


    TELEGRAPH | EZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.