Arab Spring dan Proses Demokratisasi Dunia Arab yang Dipicu Demonstrasi Massa

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    REUTERS/ Finbarr OReilly

    REUTERS/ Finbarr OReilly

    TEMPO.CO, Kairo -Kebangkitan Dunia Arab atau biasa dikenal dengan nama Arab Spring adalah sebuah gerakan sosial yang masif terjadi di jazirah Arab lebih dari satu dekade lalu.

    Gerakan sosial ini termanifestasikan ke dalam sebuah gelombang unjuk rasa dan protes menuntut terjadinya revolusi di banyak dunia Arab.

    Pada awalnya, gerakan ini bermula di Tunisia dan Mesir pada 18 Desember 2010. Setelah itu, gerakan ini menjalar ke banyak negara, seperti Libya, Bahrain, Suriah, Yaman, Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, Oman, Kuwait, Lebanon, Mauritinia, Arab Saudi, Sudan, dan Sahara Barat.

    Menurut Julia Skinner (2011) dalam artikel jurnalnya yang berjudul Social Media and Recolution menyatakan bahwa gerakan Arab Spring menggunakan sebuah metode pemberontakan sipil yang didukung dengan pemanfaatan media sosial, seperti Facebook, Twitter, Youtube, dan Skype untuk melakukan pengorganisasian, komunikasi, dan peningkatan kesadaran akan Arab Spring.

    Di samping itu, pemanfaatan media sosial yang masif juga berakibat pada simpati masyarakat dunia terhadap Arab Spring dan berujung pada banyak masyarakat dunia yang mendukung Arab Spring.

    Unjuk rasa yang dilakukan dalam Arab Spring, banyak direspons secara oleh pihak yang berwajib dan seringkali gerakan ini dibenturkan antara sesamam rakyat. Slogan bagi banyak pengunjuk rasa dalam Arab spring adalah Ash-sha’b yurid isqat an-nizam atau Rakyat ingin menumbangkan rezim ini.

    Arab Spring dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan masyarakat di banyak negara Arab atas kepemimpinan rezim-rezim yang otoriter serta korup dan karena itu banyak dari mereka yang melancarkan protes dan menuntut untuk terjadinya demokratisasi di banyak negara Arab.

    Gerakan Arab Spring berhasil menumbangkan dua rezim di Mesir dan Tunisia.

    Di Suriah dan Libya, Arab Spring berujung pada perang sipil. Sedangkan, di beberapa negara Arab lain, seperti Kuwait, Lebanon, Oman, Maroko, dan Yordania, Arab Spring berhasil untuk melakukan perubahan pemerintahan dan reformasi konstitusional.

    EIBEN HEIZIER

    Baca : Pembawa Acara Televisi di Tunisia Ditahan karena Kritik Presiden

     

     


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    PTM 100 persen DKI Tetap Berjalan Meski Didesak Banyak Pihak

    Pemprov Ibu Kota tetap menerapkan PTM 100 persen meski banyak pihak mendesak untuk menghentikan kebijakan itu. Sejumlah evaluasi diberikan pihak DKI.