Bank Sentral Venezuela Laporkan Inflasi 130.000 Persen pada 2018

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yaneidi Guzman (kiri) pergi berbelanja bahan makanan di Caracas, Venezuela, 19 Februari 2019. Poster bertuliskan paket kecil satu kilo beras, satu kilo pasta, satu kilo garam, satu kilo tepung dan setengah kilo mentega seharga 19.500 Bolivar (Rp 27.000). Sementara pendapatan Guzman dan suaminya kurang dari 30 dolar AS (Rp 420.000) per bulan. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

    Yaneidi Guzman (kiri) pergi berbelanja bahan makanan di Caracas, Venezuela, 19 Februari 2019. Poster bertuliskan paket kecil satu kilo beras, satu kilo pasta, satu kilo garam, satu kilo tepung dan setengah kilo mentega seharga 19.500 Bolivar (Rp 27.000). Sementara pendapatan Guzman dan suaminya kurang dari 30 dolar AS (Rp 420.000) per bulan. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Sentral Venezuela untuk pertama kalinya merilis laporan inflasi negara mencapai 130.060 persen pada 2018.

    Laporan Bank Sentral adalah laporan pertama pada indikator ekonomi Venezuela sejak 2015.

    Menurut laporan yang dikutip dari Russia Today, data lembaga pengawas yang dirilis pada hari Selasa mencatat, harga barang yang sebelumnya senilai 1 bolivar pada 2017, naik menjadi 1.300 bolivar pada 2018 akibat inflasi. Jika dibandingkan pada inflasi 2017, yakni 862 persen, maka inflasi tahun 2018 adalah bencana bagi ekonomi Venezuela.

    Baca juga: Kesulitan Keuangan, Dubes Venezuela untuk Italia Mundur

    Bank Sentral Venezuela merilis laporan terakhirnya pada tiga tahun lalu.

    Sebelum rilis terbaru dari Bank Sentral, data dan prakiraan inflasi Venezuela diterbitkan oleh Majelis Nasional Venezuela yang dikendalikan oposisi dan beberapa organisasi internasional.

    Sebelumnya IMF memproyeksikan inflasi Venezuela lebih dari 10 juta persen untuk ini dan tahun depan.

    Orang-orang berbelanja jeroan tanpa daging dan produk sampingan daging sapi lainnya di pasar loak di Maracaibo, Venezuela.[Meridith Kohut/The New York Times]

    Ekonomi Venezuela yang terkena sanksi menyusut sebesar 47,7 persen dalam lima tahun sejak 2013, dengan PDB negara itu telah kehilangan 22,5 persen dari tahun ke tahun pada kuartal ketiga 2018.

    Baca juga: Senator AS Ingin Invasi Venezuela Jika Maduro Enggan Mundur

    Ekspor minyak, menyumbang sekitar 90 persen dari pendapatan Venezuela, namun anjlok menjadi US$ 29,8 miliar (Rp 429 triliun) pada 2018, turun dari US$ 85,6 miliar (Rp 1.232 triliun) pada 2013 dan US$ 71,7 miliar (Rp 1.032 miliar) pada 2014, ketika harga minyak turun yang memicu jatuhnya ekonomi negara.

    Baca juga: Krisis Venezuela Seburuk Negara yang Dilanda Perang

    Terlepas dari krisis ekonomi dalam negeri, sanksi AS terhadap sektor energi Venezuela juga berkontribusi besar terhadap kerugian finansial karena ekspor minyak mentah tahun lalu turun 5,6 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.