Dituding Tembakkan Rudal Balistik ke Mekah, Houthi Angkat Bicara

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peziarah muslim berswafoto dengan telepon genggamnya saat ribuan jemaah melakukan tawaf memutari Ka'bah di Masjidil Haram menjelang puncak ibadah haji di kota suci Mekah, Arab Saudi, Kamis, 16 Agustus 2018. REUTERS/Zohra Bensemra

    Peziarah muslim berswafoto dengan telepon genggamnya saat ribuan jemaah melakukan tawaf memutari Ka'bah di Masjidil Haram menjelang puncak ibadah haji di kota suci Mekah, Arab Saudi, Kamis, 16 Agustus 2018. REUTERS/Zohra Bensemra

    TEMPO.CO, Jakarta - Milisi Houthi yang berafiliasi dengan Iran dan Yaman membantah laporan media Arab Saudi, Al Arabiya pada Senin 20 Mei 2019, bahwa mereka telah menembakkan rudal balistik ke arah Mekah, sehubungan meningkatnya permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat. 

    "Rezim Saudi berusaha, melalui tuduhan-tuduhan ini, untuk menggalang dukungan bagi agresi brutalnya terhadap rakyat Yaman," kata juru bicara militer Houthi Yahya Sarea di media sosial Facebook, dikutip dari Reuters, 20 Mei 2019.

    Baca juga: Milisi Houthi Tarik Diri dari 3 Pelabuhan Utama, Yaman Sinis

    Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE) memimpin koalisi negara-negara Muslim Sunni yang didukung oleh Barat untuk melakukan intervensi di Yaman pada 2015. Intervensi ini bertujuan mengembalikan pemerintah Yaman yang sudah digulingkan oleh Houthi pada akhir 2014 di Sanaa.

    Televisi Al Arabiya mengutip saksi mata, melaporkan bahwa pasukan Angkatan Udara Saudi telah menghalau dua rudal balistik di atas langit kota sebelah barat Taif dan Jeddah yang diarahkan ke Mekah. Namun, sumber itu tidak memberikan bukti yang jelas.

    Juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman tidak segera menanggapi kejadian tersebut.

    Lebih dari dua juta Muslim dari seluruh dunia melakukan ibadah haji ke Mekah setiap tahun. Banyak juga yang mengunjungi kota itu selama Ramadan.

    Arab Saudi menuduh Iran memerintahkan serangan pesawat tanpa awak pekan lalu di dua instalasi pompa minyak milik kerajaan. Teheran membantah tudingan itu, tetapi Houti mengaku bertanggung jawab atas agresi tersebut.

    Baca juga: Wamenhan Saudi Tuding Milisi Houthi sebagai Alat Rezim Iran

    AS dan Iran telah memperdebat sanksi atas kehadiran militer Amerika di wilayah itu. Ini meningkatkan kecemasan potensi konflik antara Negeri Paman Sam dan Teheran.

    Kantor berita SABA mengatakan, milisi Houthi akan memulai operasi angkatan bersenjata terhadap 300 target militer vital, termasuk markas besar dan sarananya yang berada di Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan fasilitas koalisi yang ada di Yaman.

    Konflik Yaman secara luas adalah perang proksi antara Riyadh dan Teheran. Orang-orang Houthi menyangkal menjadi boneka Iran dan mengatakan mereka sedang melakukan revolusi melawan korupsi.

    Baca juga: Militan Houthi Serang Fasilitas Pengolahan Minyak Arab Saudi

    Instalasi pompa minyak Aramco lumpuh selama dua hari setelah tanki mereka diserang dan termasuk kejadian sabotase dua kapal tanker di lepas pantai UEA yang tidak seorangpun bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

    Dua sumber pemerintah AS mengatakan, pekan lalu bahwa para pejabat AS percaya bahwa Iran mendorong milisi Muslim Syiah yang berbasis di Irak untuk melakukan serangan. Namun, UAE tidak segera mengambil keputusan hingga menunggu proses investigasi selesai.

    Milisi Houthi telah berulang kali menargetkan kota-kota di Arab Saudi dan instalasi minyak dengan rudal dan pesawat tanpa awak, sebagian besar di daerah perbatasan. Dua kali, pada 2016 dan 2017, koalisi mengatakan kelompok itu telah meluncurkan rudal ke arah Mekah, tetapi gerakan Houthi mengatakan, mereka menargetkan bandara terdekat.

    REUTERS | EKO WAHYUDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.