Anwar Ibrahim Bela Nurul Izzah Soal Sebut Mahathir Bekas Diktator

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nurul Izzah, yang merupakan anggota DPR serta putri dari bekas Deputi PM Anwar Ibrahim (kiri), dan PM Mahathir Mohamad. Facebook

    Nurul Izzah, yang merupakan anggota DPR serta putri dari bekas Deputi PM Anwar Ibrahim (kiri), dan PM Mahathir Mohamad. Facebook

    TEMPO.COKuala Lumpur – Presiden Partai Keadilan Rakyat, Anwar Ibrahim, membela pernyataan putrinya Nurul Izzah Anwar, yang merupakan anggota parlemen, terkait penyebutan Perdana Menteri Mahathir Mohamad sebagai sebagai bekas diktator.

    Baca:

     

    Nurul, yang merupakan anggota parlemen dari Permatang Pauh, mengatakan Dr Mahathir menyebabkan banyak kerusakan terhadap bangsa dalam wawancara dengan Straits Times.

    “Saya pikir (kritik) itu tidak sepenuhnya ditujukan kepada Tun Mahathir tapi juga diarahkan kepada para pimpinan lain yang menyuarakan pendapat mereka dan saling mengkritik,” kata Anwar seperti dilansir Channel News Asia, pada Selasa, 26 Maret 2019.

    Nurul Izzah mengatakan dalam wawancara tadi bahwa dia merasa “patah hati” kepada Pakatan Harapan karena lambat dalam memenuhi janji-janji kampanye. Dia mengatakan akan mundur dari posisinya sebagai anggota DPR setelah masa tugasnya saat ini berakhir.

    Baca:

     

    Menurut Anwar, dia dan keluarga mendukung kepemimpinan Mahathir secara penih. Dia juga memberikan ruang kepada PM untuk melaksanakan kebijakan.

    “Kami memberi ruang meski ini tidak berarti kami tidak memiliki perbedaan pendapat atau memberikan kritik,” kata Anwar seperti dilansir Malay Mail.

    Soal pernyataannya mengenai Mahathir sebagai seorang mantan diktator, Nurul menyatakan tidak akan mengubahnya.

    “Itu adalah catatan fakta yang saya buat. Saya katakan itu sebelum pemilu dan katakan itu saat demonstrasi Bersih 3.0 dan 4.0. Saya tidak mengerti mengapa mengatakan pesan yang sama dalam forum berbeda menjadi masalah,” kata dia.

    Baca:

     

    Pada Jumat pekan lalu, Nurul menyatakan mundur dari posisi di Public Accounts Committee. Ini terjadi setelah Mahathir mengumumkan Ronald Kiandee, yang merupakan anggota parlemen dari Partai Pribumi Bersatu besutan Mahathir, dinyatakan tetap sebagai ketua PAC.

    Keputusan Mahathir ini bertentangan dengan janji politik Pakatan Harapan bahwa ketua PAC seharusnya berasal dari anggota parlemen dari pihak oposisi.

    Sikap Nurul ini ditanggapi Menteri Urusan Ekonomi, Azmin Ali, yang berasal dari Partai Keadilan Rakyat seperti Nurul.

    “Negara ini butuh pelaksana yang siap bersikap kuat sepanjang jalan, bukan tangisan bayi. Apapun yang dibutuhkan, kita harus membuatnya berhasil. Jika Anda tidak tahan dengan panas, sebaiknya keluar dari dapur.”

    Baca:

     

    Soal pernyataan Azmin ini, Anwar mengatakan politikus satu partai itu sebaiknya menenangkan diri. “Ada orang-orang yang ingin membela prinsip dan ide. Ada orang yang akan membela jabatan mereka dengan cara apapun. Jadi, ambil ini sebagai pertimbangan,” kata dia seperti dilansir The Malaysian Insight.

    Soal ini, Mahathir dikabarkan mengatakan dia merasa sama kecewanya dengan orang-orang yang merasa kecewa dengan kepemimpinannya. “Tidak apa-apa, banyak orang merasa kecewa. Saya juga merasa kecewa dengan mereka,” kata Mahathir.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.