Kasus Jamal Khashoggi, Uni Eropa Desak Investigasi yang Kredibel

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini (kiri) dan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu. Press Tv

    Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini (kiri) dan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu. Press Tv

    TEMPO.CO, Ankara – Uni Eropa meminta investigasi yang kredibel dan transparan untuk mengungkap pembunuhan kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi, yang dilakukan tim pembunuh bentukan lembaga intelijen Arab Saudi.

    Baca:

     

    Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengatakan proses investigasi yang kredibel dan transparan ini belum lengkap.

    “Mereka yang terlibat, benar-benar terlibat atas pembunuhan mengerikan ini harus dimintai pertangung-jawaban,” kata Mogherini dalam jumpa pers bersama Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, seperti dilansir Reuters dan Times Now News pada Kamis, 22 November 2018 waktu setempat.

    Mogherini melanjutkan,”Bagi kami pertanggung-jawaban tidak berarti balas dendam.” Dia mengaku menolak pelaksanaan hukuman mati terkait kasus apapun.

    Baca:

     

    Sikap UE ini disampaikan pasca pernyataan otoritas Saudi bahwa ada 5 orang dari 21 tersangka kasus pembunuhan Jamal Khashoggi yang bakal dikenai tuntutan hukuman mati. Ini termasuk 11 orang yang telah dikenai tuntutan hukum.

    Dua anak Jamal Khashoggi diundang oleh Raja Salman ke istana Al Yamamah di ibu kota Riyadh, Arab Saudi. Raja Salman ingin mengucapkan belasungkawa secara langsung. Sumber : english.alarabiya.net

    Menlu Cavusoglu baru saja tiba di Ankara dari kunjungan ke Washington dan New York untuk bertemu Menlu AS, Mike Pompeo, dan Sekjen PBB Eurico Guterres. Mereka membahas soal perlunya investigasi internasional untuk mengungkap kasus pembunuhan jurnalis senior Arab Saudi itu. 

    Jurnalis senior Jamal Khashoggi, 59 tahun, tewas di kantor Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018. Pemerintah Arab Saudi, yang awalnya mengaku tidak tahu menahu soal ini, belakangan membenarkan warga negaranya itu tewas akibat pembunuhan berencana.

    Pembunuhan itu dirancang oleh Direktorat Intelijen Umum Arab Saudi dan melibatkan 15 orang, yang langsung berada di kantor konjen dan sebuah rumah aman atau safe house.

    Baca:

     

    Deputi Kepala Direktorat Intelijen Umum Arab Saudi, Ahmed Al Assiri, diduga kuat mengirim tim pembunuh ini ke Istanbul. Dia dicopot dari jabatannya dan bakal menjalani sidang pengadilan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

    Bekas Deputi Kepala Direktorat Intelijen Umum Arab Saudi, Mayor Jenderal Ahmed Al Assiri. The Times

    Presiden AS, Donald Trump, menyatakan negaranya merupakan sekutu kuat Arab Saudi terkait kasus pembunuhan Jamal Khashoggi, yang merupakan penduduk di Virginia, AS. Dia mengatakan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed Bin Salman, bisa jadi tahu atau tidak tahu soal rencana pembunuhan itu.

    Baca:

     

    Sikap Trump mengenai kasus pembunuhan Jamal Khashoggi mendapat kecaman dari sejumlah tokoh politik Partai Republik dan Demokrat. Mereka menyebut Trump mengedepankan kepentingan Arab Saudi dan bukannya Amerika.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.