Rabu, 21 November 2018

Jamal Khashoggi Tewas, Senat AS Tolak Setujui Nuklir Arab Saudi

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah jurnalis freelance Indonesia melakukan aksi damai di depan Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta, Jumat, 19 Oktober 2018. Aksi ini menuntut kejelasan atas hilangnya jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, setelah memasuki Konsulat Jenderal Arab Saudi di Turki pada 2 Oktober lalu. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Sejumlah jurnalis freelance Indonesia melakukan aksi damai di depan Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta, Jumat, 19 Oktober 2018. Aksi ini menuntut kejelasan atas hilangnya jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, setelah memasuki Konsulat Jenderal Arab Saudi di Turki pada 2 Oktober lalu. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Lima senator Partai Republik mengirim surat kepada Presiden Donald Trump untuk mengakhiri negosiasi kerja sama energi nuklir dengan Arab Saudi karena pembunuhan Jamal Khashoggi.

    Dilansir dari Washington Post, 1 November 2018, dalam suratnya para senator juga mengancam untuk mengajukan undang-undang guna memblokir perjanjian nuklir dengan Arab Saudi jika Trump tidak mau membatalkan negosiasi.

    Baca: Politikus Amerika Risau Trump Bantu Arab Saudi Teknologi Nuklir

    "Kami sudah mengadakan keberatan serius tentang negosiasi untuk kesepakatan seperti itu," kata Senator Marco Rubio, Todd C. Young, Cory Gardner, Rand Paul dan Dean Heller, dikutip dari NBC News.

    Presiden Donald Trump bersama dengan Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih, Washington, 20 Maret 2018. REUTERS/Jonathan Ernst/File Photo

    Surat para senator mengisyaratkan ketidakpercayaan pada para pemimpin Saudi, yakni kekhawatiran bahwa kerajaan Saudi mungkin mencoba untuk menyesuaikan teknologi nuklir yang diperoleh dalam kesepakatan penggunaan sipil untuk tujuan pembuatan senjata.

    Arab Saudi tidak pernah menyetujui syarat yang akan melarangnya mengubah program nuklir untuk produksi energi menjadi alat untuk memperkaya uranium, memproses ulang plutonium dan penggunaan persenjataan lainnya yang bisa menjadikan Arab Saudi mampu memproduksi senjata nuklir dalam beberapa minggu, kata para senat, di mana Uni Emirat Arab juga tertarik dengan nuklir.

    Baca: Pembunuhan Jamal Khashoggi, Senat Minta Trump Sanksi Saudi

    Para pejabat Saudi telah mengakui bahwa Jamal Khashoggi, seorang pengritik yang mengasingkan diri di AS, setelah sebelumnya menyangkal terlibat pembunuhan. Presiden Donald Trump, yang sebelumnya membelas kerajaan Saudi, juga meminta Arab Saudi tidak menutup-nutupi kasus ini.

    Jasad wartawan Jamal Khashoggi, 59 tahun, diduga dimutilasi menjadi tiga bagian dan dimasukkan dalam sebuah koper sebelum di buang ke sumur. Sejumlah laporan menyebut, Khashoggi dibunuh dalam dua jam dan tubuhnya dibuang dalam sebuah kepanikan. Sumber: Image: X80001/mirror.co.uk

    "Pengungkapan yang sedang berlangsung tentang pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, serta tindakan Saudi yang terkait dengan Yaman dan Lebanon, telah meningkatkan kekhawatiran serius lebih lanjut tentang transparansi, akuntabilitas, dan penilaian para pembuat keputusan saat ini di Arab Saudi," kata para Senator.

    Baca: Mohammed bin Salman Sudah Incar Jamal Khashoggi Selama 3 Tahun

    Ketidakpuasan Kongres dengan hubungan AS-Arab Saudi sedang fluktuatif sebelum hilangnya Jamal Khashoggi pada 2 Oktober.

    Namun pembunuhan kejam Jamal Khashoggi yang diyakini parlemen AS dilakukan atas perintah pemimpin Saudi, termasuk Putra Mahkota Mohammed bin Salman, menimbulkan desakan dari parlemen termasuk sanksi dan mengakhiri penjualan senjata serta dukungan militer untuk Arab Saudi, terutama dalam perang sipil Yaman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.