Rabu, 21 November 2018

Politikus Amerika Risau Trump Bantu Arab Saudi Teknologi Nuklir

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Donald Trump bersama dengan Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih, Washington, 20 Maret 2018.  REUTERS/Jonathan Ernst/File Photo

    Presiden Donald Trump bersama dengan Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih, Washington, 20 Maret 2018. REUTERS/Jonathan Ernst/File Photo

    TEMPO.CO, Washington – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Demokrat dan Republik Amerika Serikat mengajukan rancangan undang-undang yang meminta pemerintahan Presiden Donald Trump melaporkan rencana detil pemerintah Arab Saudi untuk membangun reaktor nuklir.

    Baca: Donald Trump: Raja Salman Tidak Akan Berkuasa Lama Tanpa AS

    Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed Bin Salman, seperti dilansir Sputnik, berusaha mengurangi ketergantungan energi negaranya dari minyak bumik. Saudi berencana membangun 16 reaktor nuklir dalam beberapa tahun ke depan.

    Anggota DPR Brad Schneider dari Demokrat dan Mark Meadows dari Republik, yang merupakan anggota dari Komisi Luar Negeri DPR AS, mengajukan RUU itu pada pekan lalu.

    Baca: 

    Trump Minta Arab Saudi Genjot Produksi Minyak dan Tekan Harga

    Jika RUU ini disahkan, Trump diharuskan menyerahkan laporan kepada Kongres dalam 180 hari mengenai kepentingan keamanan nasional AS dan sekutu di kawasan Timur Tengah jika Arab Saudi memiliki kemampuan pengayaan bahan bakar nuklir lewat penjualan komersial.

    “Ada pendekatan dari pemerintahan AS yang kurang pas mengenai keprihatinan signifikan yang bisa ditimbulkan dari hal ini terhadap sekutu di wilayah ini,” kata Schneider mengenai alasannya mengajukan RUU itu seperti dilansir media Haaretz, Rabu, 3 Oktober 2018.

    Baca: 

    Trump: Jika Saudi Membayari, Kami Tetap di Suriah

    Menurut Schneider, isu nuklir Arab Saudi ini membutuhkan perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan saat ini.

    Pemerintahan Trump dikabarkan sedang membicarakan soal kemungkinan penjualan reaktor nuklir ke Arab Saudi. Jika AS menolak, Saudi akan membeli reaktor ini dari Cina. Pembahasan soal ini diperkirakan bakal kelar dalam beberapa pekan lagi.

    Laporan yang diminta dari pemerintahan Trump adalah mengenai kepastian reaktor nuklir itu untuk kepentingan sipil dan bukan senjata. Dan apa langkah yang dilakukan Saudi untuk memastikan teknologi itu tidak jatuh ke tangan kelompok ekstrimis.

    Foto ruang uji coba yang digunakan untuk melakukan eksperimen eksplosif tinggi untuk bom nuklir milik Iran.[Haaretz]

    Menurut Schneider, isu nuklir Saudi dan Iran harus dipisahkan meskipun Riyadh merupakan sekutu untuk melawan pengaruh Teheran. “Kita harus mengeluarkan Iran dari Suriah dan memblokir rencana mereka membangun jalur darat ke negara itu. Kita juga harus menyadari risiko terjadinya perlombaan senjata nuklir.”

    Baca: Trump Meminta Qatar dan Saudi Segera Berdamai, Ini Alasannya

    Schneider mengaku yakin RUU ini bakal mendapat dukungan bipartisan jika pemerintahan Trump menolaknya. “Ada dukungan bipartisan yang kuat terhadap keamanan Israel dan orang-orang menyadari ini bisa menjadi ancaman regional bagi kepentingan kita dan sekutu Israel,” kata dia.

    Sedangkan anggota DPR Meadows mengatakan pemerintah Amerika harus berhati-hati mengenai implikasi transfer teknologi nuklir ke negara di Timur Tengah. Ini karena ada organisasi teroris yang berminat mendapat material bahan bakar nuklir dan kondisi tegang di kawasan ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.