Jumat, 17 Agustus 2018

Rouhani Minta Korea Utara Perkuat Solidaritas Hadapi Amerika

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Iran, Hassan Rouhani,(kanan) menerima Menlu Korea Utara, Ri Yong-ho (kiri) di Teheran, Iran, pada Rabu, 8 Agustus 2018. Ifpnews

    Presiden Iran, Hassan Rouhani,(kanan) menerima Menlu Korea Utara, Ri Yong-ho (kiri) di Teheran, Iran, pada Rabu, 8 Agustus 2018. Ifpnews

    TEMPO.CO, Teheran – Presiden Iran, Hassan Rouhani, meminta kepada pemerintah Korea Utara untuk meningkatkan solidaritas melawan tekanan Amerika Serikat.

    Baca:

    Embargo Ekonomi Iran Diperketat, Amerika Serikat Ajak Dialog

    Donald Trump Ancam Perusahaan yang Berbisnis dengan Iran

    Rouhani menyampaikan permintaan ini kepada Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong-ho, yang datang ke ibu kota Teheran sejak Selasa, 7 Agustus 2018, untuk kunjungan dua hari.

    “Tindakan pemerintah AS dalam tahun-tahun belakangan ini membuat negara itu dianggap tidak layak untuk dipercaya dan diandalkan oleh seluruh dunia karena tidak memenuhi kewajiban-kewajibannya,” kata Rouhani seperti dilansir media Presstv dan Eastern Mirror, pada Rabu, 8 Agustus 2018.

    Rouhani juga mengatakan,”Dalam situasi seperti ini, negara sahabat perlu mengembangkan hubungan mereka dan kerja sama di komunitas internasional bersama-sama.”

    Menurut Rouhani, Iran dan Korea Utara telah mendukung satu sama lain dalam berbagai titik kritis perjalanan kedua negara di dunia internasional. Ini merujuk kepada tekanan yang dialami kedua negara untuk menghentikan program senjata nuklir keduanya.

    Menurut media NHK, Ri menyahut bahwa,”Negaranya akan akan meningkatkan hubungan dengan Iran dan melawan unilateralisme.”

    Menlu Korea Utara Ri datang ke Teheran, Iran, pada Selasa, 7 Agustus 2018 untuk kunjungan dua hari. Ini merupakan tanggal AS mulai mengenakan sanksi embargo ekonomi kepada Iran terkait program nuklir.

    AS menyatakan keluar dari kesepakatan joint comprehensive plan of action, yang ditandatangani Presiden AS Barack Obama dan lima negara besar lainnya pada 2015, pada tiga bulan lalu.

    Presiden Iran, Hassan Rouhani,(kanan) menerima Menlu Korea Utara, Ri Yong-ho (kiri) di Teheran, Iran, pada Rabu, 8 Agustus 2018. Parstoday

    Korea Utara saat ini telah menandatangani kesepakatan dengan AS untuk melakukan denuklirisasi. Namun, pelaksanaan perjanjian ini menemui kendala karena AS tidak ingin membuka sanksi ekonomi penuh yang telah diberlakukan kepada Korea Utara.

    Baca:

    Amerika Serikat Gagal Bujuk Cina Hentikan Impor Minyak dari Iran

    Ditekan Amerika Serikat, Iran dan Korea Utara Bertemu

    Sedangkan Korea Utara mendesak sanksi ekonomi ini dibuka secara bertahap sambil melakukan proses denuklirisasi.

    Mengenai kunjungan menlu Korea Utara ke Iran ini ini, Soo Kim, yang merupakan bekas analis intelijen CIA, mengatakan pemerintah Korea Utara ingin mengirim pesan kepada komunitas internasional.

    Pesannya adalah rezim Korea Utara melanjutkan negosiasi denuklirisasi dengan AS sambil mengembangkan persahabatan dengan negara-negara seperti Iran. “Ini cara untuk membuat kita terus bersiaga,” kata Soo Kim. “Mereka (Korea Utara) mencoba mempermainkan kita. Mereka memberi kita harapan bahwa semua baik-baik saja tapi pada saat yang sama mereka tidak menunjukkan apapun yang kongkrit.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Jurus Rusia Membalas Sanksi AS Terkait Sergei Skripal

    Berikut 5 hal yang mungkin Rusia sebagai retaliasi atas sanksi dari AS terkait kasus serangan racun novichok kepada Sergei Skripal dan putrinya.