Jumat, 17 Agustus 2018

Iran: Mau Berunding, Donald Trump Harus Ikut Perjanjian Nuklir

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani. REUTERS/Carlos Barria, REUTERS/Lisi Niesner

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani. REUTERS/Carlos Barria, REUTERS/Lisi Niesner

    TEMPO.CO, Jakarta - Pejabat Iran skeptis menanggapi komentar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang bersedia berunding dengan Iran. Namun pejabat Iran menanggapi jika Donald Trump ingin mengadakan perundingan, Amerika Serikat perlu bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir internasional yang mundur sepihak pada Mei lalu.

    Dilaporkan Associated Press, 31 Juli 2018, Trump pada Senin 30 Juli kemarin mengatakan dia ingin bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani kapan saja jika pemimpin Iran itu bersedia.

    Baca: Donald Trump Ingin Bertemu Presiden Iran Tanpa Syarat

    Para petinggi Iran sebelumnya menolak berunding dengan Donald Trump setelah ia mengumumkan menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir, di mana salah satu pokoknya menghapus sanksi ekonomi terhadap Iran.

    Fasilitas Nuklir Iran di Isfahan.[haaretz]

    Sementara Presiden Iran, Hassan Rouhani, seperti dikutip Reuters, mengatakan penarikan AS dari kesepakatan nuklir adalah "ilegal" dan terserah Eropa untuk mempertahankan perjanjian dengan Iran atau membatalkannya.

    "Setelah penarikan diri ilegal AS dari kesepakatan nuklir, bola kini ada di pengadilan Eropa," kata Rouhani.

    "Republik Islam Iran tidak pernah mencari ketegangan regional dan tidak ingin ada masalah di perairan global, tetapi tidak akan mudah menyerah pada haknya untuk mengekspor minyak," kata Rouhani.

    Rouhani dan beberapa komandan militer senior mengancam akan memblokir pengiriman minyak dari negara-negara Teluk melalui Selat Hormuz jika AS mencoba mencekik ekspor minyak Iran.

    Anggota parlemen Iran membakar kertas bergambar bendera AS, di Teheran, Iran, 9 Mei 2018. Iran telah menandatangani kesepakatan nuklir di Wina, Austria, pada 2015 bersama enam negara superkuat, yakni Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina, serta Uni Eropa. AP Photo

    Baca: Survei: Mayoritas Warga Amerika Serikat Tolak Perang dengan Iran

    Penasehat politik Hamid Aboutalebi, seperti dikutip kantor berita ISNA, mengatakan bahwa agar pembicaraan bisa terjadi, AS perlu bergabung kembali dengan kesepakatan itu.

    "Mereka yang percaya pada dialog sebagai metode menyelesaikan perselisihan dalam masyarakat yang beradab harus berkomitmen pada sarana," kata Hamid.

    Trump menarik diri dari perjanjian nuklir pada Mei lalu dengan alasan isi perjanjian tersebut terlalu murah hati kepada Iran. Sebaliknya Trump malah meningkatkan sanksi sampai Iran mengubah kebijakan regionalnya, termasuk dukungannya bagi kelompok militan regional.

    Baca: Unggah Video, Benjamin Netanyahu Minta Dunia Bantu Iran?

    Meskipun Donald Trump dalam perkataannya pada Senin kemarin menyampaikan kesediaannya bertemu Rouhani tanpa syarat, Trump menolak menarik tuntutannya terhadap kebijakan internasional Iran.

    Menyusul sanksi AS yang mulai diberlakukan Senin depan, ekonomi di Iran telah terpukul, sehingga menimbulkan kekhawatiran yang terus bertambah jatuhnya ekonomi yang berkepanjangan.

    Baca: Jika Ekspor Minyak Iran Terhambat, Jenderal Bilang Ini

    Mata uang Iran telah jatuh bebas, mencapai rekor level terendah pada Senin 30 Juli di 122.000 rial Iran terhadap dolar AS. Pada Selasa 31 Juli sedikit naik ke level 115.000 riyal Iran terhadap dolar AS. Namun kekhawatiran tumbuh di masyarakat Iran yang mendapati tabungan mereka berkurang dan daya beli turun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Jurus Rusia Membalas Sanksi AS Terkait Sergei Skripal

    Berikut 5 hal yang mungkin Rusia sebagai retaliasi atas sanksi dari AS terkait kasus serangan racun novichok kepada Sergei Skripal dan putrinya.