Sabtu, 18 Agustus 2018

Pengamat: Konflik di Gaza Sebabkan Perdamaian Timur Tengah Mundur

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pengunjuk rasa membakar bendera AS saat unjuk rasa di dekat Kedutaan Besar AS untuk mengutuk kekerasan Jalur Gaza yang menyebabkan puluhan orang Palestina tewas, di Manila, Filipina, 17 Mei 2018. (AP Photo/Bullit Marquez)

    Para pengunjuk rasa membakar bendera AS saat unjuk rasa di dekat Kedutaan Besar AS untuk mengutuk kekerasan Jalur Gaza yang menyebabkan puluhan orang Palestina tewas, di Manila, Filipina, 17 Mei 2018. (AP Photo/Bullit Marquez)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik Timur Tengah, Hamdan Basyar, mengatakan proses perdamaian di Timur Tengah mengalami kemunduran pasca tewasnya sekitar seratus warga Gaza, yang ditembak pasukan Israel saat berunjuk rasa di perbatasan kedua wilayah.

    “Sikap Israel yang mau menang sendiri sulit diterima Palestina dan pendukungnya,” kata Hamdan kepada Tempo, Jumat, 18 Mei 2018.

    Baca: Afrika Selatan: Aksi Israel di Gaza Seperti Nazi ke Kaum Yahudi

    Hamdan, yang merupakan peneliti utama di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan perlu ada terobosan untuk menghukum Israel karena mau menang sendiri. “Artinya Israel perlu dikucilkan,” kata dia. “Tapi masalahnya Trump yang selalu membela.”

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merupakan Presiden pertama dari negara itu yang menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Trump juga merupakan negara barat pertama yang memindahkan kantor Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Kota Yerusalem pada Senin, 14 Mei 2018.

    Baca: Rusia, Turki dan Kanada Desak Israel Akhiri Kekerasan di Gaza

    Langkah Trump ini, seperti dilansir Reuters, memicu unjuk rasa warga Palestina khususnya di Jalur Gaza di area pagar perbatasan dengan Israel. Pasukan Israel menembaki para pengunjuk rasa ini sehingga korban tewas mencapai sekitar 100 orang.

    Hamdan mengatakan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB, harus menjalani reformasi. Ini untuk menghilangkan hak veto agar AS tidak bisa menghalangi DK PBB untuk bisa menghukum Israel.

    Menurut Hamdan, pemindahan kantor Kedubes AS itu sebagai kemenangan Israel dan kekalahan Palestina. “Ini jelas memperkuat pemerintahan Netanyahu. Yang berarti ini kekalahan bagi kelompok Peace Now di Israel,” kata dia, yang juga pengajar program pasca sarjana program studi Timur Tengah dan Islam di Universitas Indonesia.  

    Menurut Hamdan, langkah Trump ini tidak akan menyurutkan usaha Palestina dan pendukungnya seperti Organisasi Kerja Sama Islam untuk menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Dia berpendapat Vatikan akan terus berupaya mendorong perdamaian di Timur Tengah dan sebuah negara Palestina merdeka. Saat ini, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai sekitar 100 orang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.