Afganistan: Pakistan Suplai Senjata ke Militan

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan keamanan berjaga di lokasi ledakan bom bunuh diri dekat kompleks badan intelijen nasional di Kabul, Afghanistan, 25 Desember 2017. REUTERS

    Pasukan keamanan berjaga di lokasi ledakan bom bunuh diri dekat kompleks badan intelijen nasional di Kabul, Afghanistan, 25 Desember 2017. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta besar Afganistan untuk Amerika Serikat, Majeed Qarar, Senin, 29 Januari 2018, mengatakan, Pakistan menyuplai peralatan militer ke militan Lashkat-e-Toiba di Kasmir dan Taliban di Afganistan.

    Baca: Akademi Militer Afganistan Diserang, 2 Tentara Tewas

    Sejumlah saksi mata mengatakan, mereka mendengar sedikitnya tiga ledakan di pusat kota. [Al Jazeera]

    Tuduhan tersebut disampaikan menyusul serangan ke Akademi Militer Afganistan di Kabul, Senin subuh, waktu setempat oleh kelompok bom bunuh diri. Akibat serangan tersebut, Afghanistan Times melaporkan, 15 orang tewas termasuk 11 anggota militer dan empat penyerang.

    "Kami menemukan kaca mata untuk penglihatan malam hari milik Taliban di pangkalan militer Maiwand. Kaca mata ini standar militer produksi Angkatan Bersenjata Pakistan dari perusahaah Inggris dan disuplai untuk Lashkar-e-Tayyeba di Kashmir dan Taliban di Afganistan," katanya seperti dikutip India Times.Tentara Afganistan tiba di dekat Akademi Militer Marsekal Fahim di Kabul, Senin, 29 Januari 2018. [REUTERSl]

    Dia menambahkan, "Lashkar-e-Tayyeba adalah organisai teroris," kata Qarar melalui cuitan Twitter."

    Baca: Taliban: Bom Ambulans Afganistan adalah Pesan Khusus Buat Trump

    Sementara itu, Amerika Serikat mengakui bahwa Pakistan telah melindungi dan memberikan tempat berlindung yang aman bagi kelompok teroris Afganistan, tetapi bukan LeT yang melancarkan teror di Mumbai. Amerika Serikat memasukkan Saeed dan Let sebagai kelompok teroris, khususnya setelah serangan Mumbai pada 2008. Pakistan belum memberikan tanggapan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.