Donald Trump Ganjar 6 Media Ini Penghargaan Berita Bohong 2017

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump, meminta wartawan senior CNN keluar dari Ruang Oval saat sesi tanya jawab mengenai kebijakan imigrasi Trump, 16 Januari 2018. REUTERS

    Presiden AS Donald Trump, meminta wartawan senior CNN keluar dari Ruang Oval saat sesi tanya jawab mengenai kebijakan imigrasi Trump, 16 Januari 2018. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta -Presiden Donald Trump mengganjar 6 media Amerika Serikat penerima penghargaan Berita Bohong tahun 2017. The New York Times berada di urutan teratas disusul ABC News, CNN, Time, Washington Post, dan Newsweek.

    Trump lewat akun Twitter miliknya mengarahkan pada blog di situs resmi Partai Republik, GOP.COM, tentang detil penghargaan Berita Bohong 2017.

    Baca: Wartawan Senior CNN Bertanya Soal Imigrasi, Trump: Keluar!

    Diawali dengan pernyataan tahun 2017 sebagai tahun yang terus menerus menghadirkan berita bias, liputan berita yang tidak adil, dan bahkan munculnya berita bohong.

    Lalu blog ini mengutip penelitian tanpa menyebut lembaga yang melakukan penelitian yang menyebut lebih dari 90 persen liputan media tentang Presiden Trump bersifat negatif.

    Berikut nama media dan penulis berita atau kolom yang diberi Penghargaan Berita Bohong 2017 disertai kutipan berita yang dianggap bohong.

    1. The New York Times yang mempublikasikan tulisan Paul Krugman, peraih Nobel Ekonomi tahun 2008 yang menyatakan pasar tidak akan pernah pulih.

    2.Wartawan ABC News, Brian Ross dianggap keliru membuat laporan ceroboh tentang Trump dan Rusia sehingga membuat pasar anjlok.

    3.CNN salah melaporkan tentang kandidat Donald Trump dan anak laki-lakinya, Donald J. Trump Jr memiliki akses untuk meretas dokumen Wikileaks.

    Baca: Sembilan Jurnalis Tanzania Buat Berita Palsu Soal Presiden Trump

    4. TIME salah melaporkan tentang presiden Trump mencopot foto Martin Luther King Jr dari Ruang Oval di Gedung Putih.

    5. Washington Post salah melaporkan tentang sepinya orang yang hadir saat presiden Trump menghadiri acara di Pensacola, Florida awal Desember 2017. Foto suasana sepi diambil sebelum acara dimulai dengan ribuan orang memenuhi ruangan. Trump yang mengunggah foto itu di akun Twitternya pada 10 Desember 2017 menuntut permintaan maaf dari Washington Post.

    6. CNN Salah dalam mengedit video saat presiden Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe memberi makan ikan di dalam kolam. Trump yang berkunjung ke Jepang dilaporkan menuangkan makanan ikan secara tidak sopan. Padahal menurut presiden Trump, dirinya mengikuti cara Abe menuangkan makanan ikan ke kolam.

    7. CNN salah melaporkan tentang pertemuan Anthony Scaramucci dengan Rusia, namun laoran itu ditarik kembali sehubungan proses signifikan masih diselidiki. Kemudian presiden Trump mengutip potongan berita Washington Post mengenai tiga karyawan CNN mengundurkan diri atas kasus laporan tentang Rusia ditarik kembali.

    Baca: Kisruh Berita Flynn dan Trump, Jurnalis ABC News Kena Sanksi

    8. Newsweek salah melaporkan tentang Ibu negara Polandia Lady Agata Konrhauser-Duda tidak menjabat tangan presiden Trump. Untuk merespons laporan Newsweek, Trump menayangkan foto dirinya didampingi istrinya, Melania Trump berjabat tangan dengan Lady Agata.

    9. CNN keliru melaporkan tentang pernyataan yang berbeda-beda tentang Direktur FBI James Comey yang tidak menjalani investigasi.

    10. The New York Times salah dalam menurunkan laporan di halaman depan tentang pemerintahan Trump telah menyembunyikan laporan tentang masalah perubahan iklim.

    11. Laporan tentang masalah Donald Trump berkolusi dengan Rusia saat proses pemilihan presiden 2016 yang memenangkannya. Blog GOP kemudian menuliskan: "Kolusi dengan Rusia mungkin berita bohong yang terbesar dilakukan oleh orang Amerika. TIDAK ADA KOLUSI!"


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.