Senin, 18 Juni 2018

Referendum Diserbu, Wali Kota Barcelona Minta PM Spanyol Mundur

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendemo melambaikan tangan dari balik kata

    Pendemo melambaikan tangan dari balik kata "Referendum" dalam penutupan kampanye mendukung referendum kemerdekaan Catalunya di Barcelona, Spanyol, 29 September 2017. Referendum yang akan digelar pada tanggal 1 Oktober ini mendapat larangan. REUTERS/Yves H

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Barcelona, Ada Colau, meminta Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, untuk mengundurkan diri. Colau juga meminta polisi menghentikan tindak kekerasan terhadap warga Catalonia yang memilih dalam referendum kemerdekaan.

    “Tindakan (kekerasan) polisi terhadap warga yang damai harus dihentikan,” kata Ada Colau dalam akun Twitternya @Adacolau seperti dikutip media The Guardian, Ahad, 1 Oktober 2017.

    Baca: Ribuan Warga Spanyol Tolak Referendum Catalonia Merdeka

    Seperti diberitakan, pemerintah regional Catalonia, dengan Barcelona sebagai ibukotanya, memutuskan menggelar referendum untuk menanyakan pendapat publik apakah mereka setuju dengan opsi merdeka dari Spanyol.

    Catalonia merupakan daerah yang kaya dengan pusat bisnis, keuangan, olah raga, dan seni. Mereka merasa berbeda dengan Spanyol dan ingin mengelola daerah mereka sendiri. Selain itu, pendapatan pajak yang cukup besar telah disetorkan kepada pemerintah pusat di kota Madrid, ibu kota Spanyol, dan kurang terasa efeknya bagi kesejahteraan warga Catalonia.

    Baca: Referendum Catalonia Kisruh, Polisi Spanyol Bentrok dengan Warga

    Dalam perkembangan terakhir, pemerintah Catalan lewat akun Twitternya @Catalangov mempublikasikan informasi terbaru bahwa 38 orang warga terluka di dirawat di layanan gawat darurat. “Mereka terluka karena aksi represif polisi Spanyol,” tulis akun  itu.

    Sedangkan Menteri Dalam Negeri Spanyol, Juan Ignacio Zoido, mengatakan tindakan polisi nasional dan Guardia Civil masih proporsional dan profesional. Dia memposting lewat akun Twitternya @zoidoJI sebuah video yang menunjukkan seorang petugas membantu seorang ayah dan putranya yang terjatuh di kerumunan di daerah Sant Julia de Ramis, Girona.

    Sejumlah video juga bermunculan di Internet yang menunjukkan pasukan polisi menyerbu berbagai lokasi pemungutan suara. Mereka terlibat dalam aksi dorong mendorong dan sempat menembaki warga yang akan menyalurkan suaranya dengan peluru karet.

    Polisi juga terekam mengambil paksa perlengkapan pemungutan suara. Sebagian dari mereka mengenakan penutup wajah hingga tidak bisa dikenali warga, yang berupaya menjaga kotak suara. Sempat terjadi aksi tarik menarik kotak suara antara warga dan polisi.

    Menurut Joaquin Pons, 89, yang ikut dalam pemungutan suara hari ini, dia merasa senang telah menggunakan hak pilihnya.

    “Pemungutan suara sebelumnya menggunakan kotak karton kali ini menggunakan kotak asli,” kata Pons. “Saya merasa sangat emosional.” Dia merasa semua warga Catalonia harus bersatu mewujudkan kemerdekaan ini.

    “Sebenarnya jika kita bisa bersatu sebagai Spanyol, ini merupakan hal yang sangat bagus. Tapi perilaku pemerintah pusat di Madrid, Spanyol, membuat ini mustahil terwujud,” kata Pons.

    GUARDIAN


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Ini 10 Negara Teraman di Dunia. Indonesia Salah Satunya

    Lembaga survei Gallup baru saja merilis survei negara teraman di dunia. Indonesia masuk sepuluh besar.