Sempat Divonis Mati, Putra Khadafi Malah Dibebaskan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Saif al-Islam (kiri) dan ayahnya, Muammar Gaddafi. REUTERS/Chris Helgren (kiri) and Jamal Saidi

    Saif al-Islam (kiri) dan ayahnya, Muammar Gaddafi. REUTERS/Chris Helgren (kiri) and Jamal Saidi

    TEMPO.CO,Tripoli — Saif al-Islam, putra kedua Muamar Khadafi—diktator Libya yang telah dijungkalkan, dilaporkan bebas dari penjara.

    Seperti dilansir Al Jazeera, Ahad, 11 Juni 2017, keterangan ini disampaikan oleh Batalion Abu Bakr al-Siddiq, milisi penguasa wilayah Zintan yang selama ini menahan Saif.

    Baca: Khadafi Telah Ingatkan Tony Blair Eropa Akan Diserang Milisi

    “Saif al-Islam dibebaskan pada Sabtu malam,” demikian pernyataan singkat pemimpin milisi, Ajmi al-Atiri. Al-Atiri dijadwalkan akan merilis pernyataan melalui video yang menjelaskan alasan pembebasan Saif.

    Saif al-Islam, 44 tahun, ditangkap di Zintan pada November 2011 saat hendak melarikan diri ke Nigeria. Ia hendak melarikan diri setelah pasukan pemberontak berhasil menguasai Tripoli setelah membunuh ayahnya.

    Pria yang paling dikenal dari kedelapan anak Khadafi ini dihukum mati pada Juli 2015 oleh pengadilan Tripoli yang menyidangkan kejahatan kemanusiaan pemerintah Khadafi di masa lalu.

    Saif juga menjadi buron Mahkamah Internasional atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

    Baca: Putra Khadafi Akan Selidiki Pelanggaran HAM di Negerinya

    Namun milisi yang menahan Saif menolak menyerahkannya kepada pemerintah Libya.

    Saif al-Islam sebelumnya disebut-sebut dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya, Muammar Khadafi. Tapi sang ayah digulingkan dari kekuasaan dalam pergolakan dan kemudian tewas tak lama setelah ditangkap pada 20 Oktober 2011.

    AL JAZEERA | BBC | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.