Marxisme Castro Adalah 'Produk' Gagal Washington  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah poster besar bergambar pemimpin Kuba Fidel Castro, terpampang di depan barak Moncada. Upacara ini diadakan untuk memperingati 62 tahun Fidel Castro menyerang barak Moncada. Santiago, Kuba, 26 Juli 2015.  Sven Creutzmann/Getty Images

    Sebuah poster besar bergambar pemimpin Kuba Fidel Castro, terpampang di depan barak Moncada. Upacara ini diadakan untuk memperingati 62 tahun Fidel Castro menyerang barak Moncada. Santiago, Kuba, 26 Juli 2015. Sven Creutzmann/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Fidel Castro, pemimpin revolusi Kuba dan tokoh sosialis terbesar di Amerika Latin, tutup usia pada Sabtu, 26 November 2016. Kepergian tokoh besar dalam sejarah dunia itu memunculkan tak sedikit kisah kilas balik perjalanannya menjadi sosok yang tak ada duanya.

    Castro dapat dikenang sebagai tokoh anti-imperialisme, kemanusiaan, antiglobalisasi, revolusioner dan bahkan diktator. Tapi menilik sepak terjangnya di panggung politik, Castro adalah produk dari kegagalan politik luar negeri Amerika Serikat.

    Klaim ini tak berlebihan mengingat Castro bukanlah seorang Marxist-Leninis sejati, sebagaimana dikira oleh Washington. Castro juga bukan semata-mata boneka Uni Soviet. Anggapan yang salah inilah yang justru membuat Amerika Serikat keliru mengambil kebijakan.

    Baca: Fidel Castro Meninggal, Kuba 9 Hari Berkabung

    Kekeliruan --yang nampak dalam insiden invasi Teluk Babi, percobaan pembunuhan, dan embargo gula-- tersebut membantu kelahiran Castro yang dunia kenal sekarang, seorang Marxist-Leninis nanggung yang bertindak pragmatis sesuai situasi.

    Kekhawatiran Amerika Serikat terhadap Castro sekilas memang bisa dipahami. Lahir dari perselingkuhan seorang tuan tanah di Havana dengan pembantunya 90 tahun lalu, karakter pembangkang mengalir deras dalam darah Castro.

    Castro menghina bapak kandungnya sendiri sebagai bagian dari kelompok borjuasi yang eksploitatif terhadap kaum miskin.

    Darah pembangkangan itu kemudian menurun ke anak perempuannya, Alina Fernandez, yang juga lahir dari perselingkuhan Castro dengan Natalia Revuelta. Alina berkhianat terhadap Castro dengan lari ke Amerika Serikat dan menyebut bapaknya sebagai "despot".

    Ketakutan berlebihan Amerika Serikat terhadap Castro diperparah oleh situasi gawat Perang Dingin tahun 1950an. Jika jatuh menjadi negara komunis dengan ideologi Leninis a la Uni Soviet, Kuba akan menjadi ancaman mengingat lokasi geografis yang berdekatan --bisa ditempuh hanya dalam satu jam penerbangan atau setara dengan jarak Jakarta-Yogyakarta.

    Semua anasir-anasir yang dekat dengan Uni Soviet di Amerika Latin akan segera dihabisi dengan sponsor agen-agen intelejen CIA kiriman Washington. Lihat saja insiden kudeta berdarah terhadap mantan pemimpin sosialis Cili, Salvador Allende.

    Namun dalam kasus Castro, Amerika Serikat salah menilai situasi. Setelah memimpin revolusi dengan menggulingkan pemerintahan diktator Fulgencio Batista pada tahun 1959, tidak ada yang tahu ke mana arah politik Kuba di bawah Castro.

    Baca: Obituari: Castro adalah Kuba dan Kuba adalah Castro

    Harian The New York Times melaporkan bahwa niat awal Castro adalah mengembalikan demokrasi kepada rakyat Kuba, setelah tujuh tahun direnggut oleh otoritarianisme Batista. Pada masa revolusi dia tidak pernah mengucapkan slogan Marxisme ataupun Leninisme meski telah menjalin persahabatan bertahun-tahun dengan tokoh sosialis Che Guevara.

    Salah Langkah Amerika Serikat pun tidak curiga Castro akan mendekat ke Uni Soviet. Tapi tetap saja Washington salah langkah dalam menanggapi kepemimpinan Castro di Kuba.

    Salah langkah Washington yang pertama terjadi saat mereka merespon hukuman mati terhadap 500 pendukung Batista oleh pemerintahan Castro. Presiden Amerika Serikat Dwight D. Eisenhower pada saat itu memotong kuota impor gula dari Kuba sebagai hukuman atas tindakan yang dinilai melanggar hak asasi manusia itu.

    Saat itulah Castro mulai berkenalan dengan Uni Soviet yang dengan cepat membaca situasi dengan membeli sebagian besar ekspor unggulan Kuba seperti gula. Dari sinilah Havana mulai mendekat ke Moskow.

    Kesalahan pertama kemudian diperparah dengan kesalahan kedua. Pada tahun 1961, Presiden John F. Kennedy menyetujui bantuan senjata kepada 1.500an pelarian asal Kuba di Florida yang ingin memberontak kepada Castro.

    Mereka kemudian diberangkatkan ke Teluk Babi, daerah timur Kuba, pada pertengahan April untuk memulai upaya penggulingan terhadap Castro. Sang pemimpin yang sudah mengetahui rencana tersebut sudah siap menunggu sehingga perlawanan hanya bertahan selama tiga hari.

    Hubungan kedua negara kemudian jatuh ke titik nadir. Amerika Serikat pada tahun yang sama memutus hubungan diplomatik dengan Kuba. Sejak saat itu Washington semakin keras terhadap Havana dengan menerapkan embargo di hampir semua produk perdagangan kecuali makanan dan obat-obatan.

    Selain itu, kabarnya dokumen resmi hasil investigasi parlemen Amerika Serikat menunjukkan persekongkolan para petinggi negara itu untuk melenyapkan Castro dengan segala cara.

    Tidak heran jika kemudian Castro kemudian menjadi salah satu tokoh dunia yang paling keras menentang "imperialisme Amerika Serikat." Tidak heran pula jika pada tahun yang sama Fidel Castro mengeluarkan pernyataan kesetiaan terhadap sebuah ideologi yang mendekatkan Kuba ke Uni Soviet.

    "Saya adalah seorang Marxist-Leninis," kata Castro pada 1961, dua tahun setelah memimpin revolusi Kuba. Setelah Amerika Serikat merencanakan invasi di Teluk Babi, memberlakukan embargo, serta membangun persekutuan upaya pembunuhan.

    Padahal sebagaimana nampak dalam kebijakan-kebijakan yang dia ambil selama hampir 50 tahun berkuasa, Castro bukanlah pengiman ideologi Marxist-Leninis yang taat. Dia juga tidak sepenuhnya despot anti-demokrasi sebagaimana yang dituduhkan anak perempuannya sendiri.

    Dalam hal demokrasi, Castro berhasil meruntuhkan segregasi sosial antara para pendatang kulit putih asal Spanyol dengan keturunan budak asal Afrika. Kota Havana kini menjadi lebih lebih berwarna setelah Castro mengundang para penduduk desa berkulit hitam untuk hijrah ke kota.

    Dalam hal ekonomi, Castro mengizinkan sejumlah petani dan pemilik restoran untuk menjual produk serta makanan mereka dengan harga pasar di luar mekanisme subsidi negara. Dia membiarkan modal asing dari Spanyol dan Kanada untuk masuk membangun hotel dan perumahan elit bagi pelancong demi meningkatkan pemasukan negara dari sektor pariwisata.

    Castro juga menutup mata terhadap warganya yang menyimpan mata uang dolar AS yang sangat dia benci saat Kuba kehilangan sekutu dagang utama usai Uni Soviet bubar tahun 1990.

    Kebijakan-kebijakan ekonomi itu tidak mungkin dilakukan oleh tokoh yang mengaku diri penganut Marxisme-Leninisme, sebuah ideologi yang mengharuskan perencanaan ekonomi terpusat dan anti-pasar.

    Dari contoh tersebut terlihat bahwa Castro adalah seorang pemimpin pragmatis, bukan ideolog berkepala batu.

    Pada level politik internasional, Castro belajar dari pengalaman kudeta Allende di Cili dan sanksi dunia terhadap Iran usai revolusi. Castro sadar bahwa permusuhan dengan Amerika Serikat harus dibarengi dengan membangun persahabatan bersama negara-negara lain.

    Baca: Dunia kehilangan 'tokoh ikonik abad 20' Fidel Castro

    Mungkin itu sebabnya Castro menggagas diplomasi kesehatan yang sangat mengagumkan itu. Ini adalah diplomasi halus yang membuat Amerika Serikat gagal membangun koalisi internasional untuk menjatuhkan sanksi kepada Kuba.

    Dari awal berkuasa sampai akhir kekuasaan tahun 2008, Castro telah mengirim hampir 70.000 pekerja kesehatan ke negara-negara Afrika, Asia, dan Amerika Latin--termasuk ke Banda Aceh saat terkena tsunami.

    Para dokter, perawat, dan teknisi kesehatan itu datang ke medan perang, tempat bencana, dan pusat wabah penyakit untuk merawat para korban dengan biaya murah. Kebijakan ini kemudian diteruskan oleh penggantinya, Raul Castro, yang mengirim ratusan dokter ke kawasan Afrika Tengah saat virus Ebola mewabah dua tahun lalu.

    Kuba tanpa diplomasi kesehatan mungkin sudah bernasib sama dengan Iran yang harus menanggung sanksi-sanksi ekonomi dari hampir semua negara besar. Tapi nyatanya, Uni Eropa dan Kanada masih mau berdagang dengan Havana meski Washington sudah berbusa-busa menyerukan embargo internasional.

    Diplomasi kesehatan dan kebijakan soal ekonomi Castro sebenarnya menunjukkan bahwa anggapan Amerika Serikat soal tokoh Kuba tersebut salah. Jika saja Washington tidak ceroboh, mungkin sejarah akan sampai pada titik yang berbeda dan Castro tidak akan membebek pada Uni Soviet.

    Kesalahan-kesalahan strategi Amerika Serikat itulah yang nampaknya sudah disadari oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat mengembalikan hubungan diplomatik dengan Kuba pada tahun lalu. Mungkin dia sadar persahabatan dengan negara tetangga lebih produktif dibanding permusuhan.

    Tapi kemenangan Donald Trump sebagai pengganti Obama memunculkan pertanyaan lain. Tokoh ini pernah menyebut negara-negara tetangga sengaja mengirim imigran pemerkosa dan pengedar narkoba untuk menghancurkan Amerika Serikat.

    Dalam skala kecil mungkin tuduhan Trump memang ada benarnya jika klaim yang menyebutkan Castro mengirimkan ribuan tahanan bersama warga yang ingin mengungsi ke AS saat peristiwa "Mariel boatlift" terbukti.

    Insiden itu tentu saja adalah persoalan sejarah yang seharusnya sudah selesai di meja perundingan saat Obama memulai kembali hubungan diplomatik dengan Kuba. Tapi jika Trump kembali mengungkit sejarah tersebut untuk mengalihkan perhatian publik Amerika Serikat, bukan tidak mungkin hubungan Washington dan Havana kembali ke titik semula.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.