Andrea Leadsom Siap Bertarung Perebutkan Posisi PM Inggris

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Andrea Leadsom, salah satu kandidat perempuan PM Inggris. REUTERS/Peter Nicholls

    Andrea Leadsom, salah satu kandidat perempuan PM Inggris. REUTERS/Peter Nicholls

    TEMPO.CO, London  - Meski dianggap minim pengalaman politik dibanding rivalnya, Theresa May, 60 tahun, Andrea Leadsom, 53 tahun, cukup diperhitungkan sebagai pesaing dalam pada pemilihan Perdana Menteri Inggris pada 9 September 2016 nanti.

    Visi besar soal masa depan Inggris dan pengalaman panjangnya dalam bidang keuangan, merupakan keunggulan tersendiri. Leadsom adalah seorang bankir berpengalaman, Pernah menjabat direktur institusi keuangan di Barclays. Bersama-sama dengan Gubenur Bank of England, dia pernah pernah menghentikan dampak negatif pasca kolapsnya Bank Barings.

    Berkat pengalamannya itu, lulusan Universitas Warwick ini pun ditunjuk  menjadi anggota Treasury Select Committee, sebuah lembaga di bawah parlemen Inggris yang bertugas mengawasi keuangan negara.

    Hingga akhirnya, Leadsom memutuskan untuk menghentikan 25 tahun karirnya di dunia perbankan dan keuangan, sesuatu yang dicita-citakannya sejak umur 13 tahun dan masuk di dunia politik.

    Dia mulai menjabat di parlemen pada 2010 mewakili South Northhamptonshire. Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri David Cameron,  Leadsom dipercaya menjadi Menteri Junior di Departemen Energi dan Perubahan Iklim.

    Selama kampanye referendum keanggotaan Inggris di Uni Eropa, Leadsom menjadi sosok yang cukup vokal menyuarakan Brexit. Bersama mantan Walikota London, Boris Johnson dan anggota parlemen dari Partai Buruh, Gisela Stuart. Leadsom menyebut diri mereka “Dream Team” yang berjuang untuk keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

    “Ini tidak hanya soal meninggalkan sesuatu (Uni Eropa), namun soal bagaimana hadir kembali di belahan negara lainnya,” kata Leadsom. Dia menekankan bahwa penting untuk melakukan negosiasi perdagangan bebas dengan negara-negara di luar Uni Eropa.

    Berbeda dengan rivalnya May, Leadsom menegaskan bahwa dirinya akan secepatnya membuat Inggris keluar dari Uni Eropa jika terpilih sebagai Perdana Menteri. Dia berjanji akan menjamin hak-hak warga negara Uni Eropa yang tinggal dan bekerja di Inggris. Adapun penyesuaian baru akan diterapkan pada orang-orang yang datang setelah tanggal 23 Juni.

    Baik May maupun Leadsom sama-sama mendukung upaya mengontrol masyarakat Uni Eropa yang masuk ke Inggris untuk tinggal dan bekerja.

    Leadsom memiliki dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Wanita kelahiran 13 May 1963 ini berjanji, jika terpilih akan menciptakan keadian sosial yang lebih baik di Inggris. Dia akan fokus pada perbaikan kesehatan mental dan peningkatan kemampuan anak-anak muda, sehingga mereka lebih mudah untuk bisa masuk ke dunia kerja.

    Selain piawai di bidang keuangan, Leadsom juga  sosok yang sangat peduli pada permasalahan sosial. Dia ikut mendirikan sebuah lembaga amal untuk mempromosikan psikoterapi antara orangtua dan anak. Dia meyakini bahwa ikatan yang kuat antara orangtua dan anak-anak di masa-masa awal perkembangan dapat mencegah sifat-sifat anti sosial yang menghinggapi generasi muda di Inggris. " Kita harus mengakhiri lingkaran kesengsaraan yang terus diturunkan pada generasi mendatang," kata Leadsom.

    BBC | FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.