Larang Muslim Masuk AS, Malala Kutuk Donald Trump

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Malala Yousafzai melambaikan tangan usai berpidato di rapat pleno PBB Sustainable Development Summit 2015 di Markas PBB, New York,  25 September 2015. Malala merupakan tokoh pendidikan Pakistan yang ditembak Taliban pada 2012 karena melakukan usaha advokasi hak perempuan. REUTERS/Mike Segar

    Malala Yousafzai melambaikan tangan usai berpidato di rapat pleno PBB Sustainable Development Summit 2015 di Markas PBB, New York, 25 September 2015. Malala merupakan tokoh pendidikan Pakistan yang ditembak Taliban pada 2012 karena melakukan usaha advokasi hak perempuan. REUTERS/Mike Segar

    TEMPO.CO, Islamabad - Peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai, mengutuk pernyataan calon presiden Amerika Serikat dari Republik, Donal Trump, yang melarang umat Islam masuk ke wilayah AS karena terkait dengan terorisme.

    "Pernyataan Trump penuh kebencian dan menuding umat muslim bagian dari terorime hanya akan menimbulkan radikalisme dan teroris," ucap Malala.

    Komentar pedas Malala itu disampaikan dalam kegiatan memperingati satu tahun serangan Taliban terhadap sebuah sekolah di Peshawar, Pakistan, yang mengakibatkan lebih dari 150 orang meninggal, hampir sebagian besar korbannya anak-anak sekolah.

    Pada 2012, Malala ditembak di bagian kepalanya oleh Taliban karena mengkampanyekan sekolah bagi anak-anak gadis seusianya.

    Seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Pakistan diliburkan pada Rabu, 16 Desember 2015, untuk memperingati satu tahun serangan mematikan Taliban. Presiden Pakistan, Perdana Menteri, dan Panglima Angkatan Bersenjata bergabung bersama dengan para korban selamat dan keluarga korban selama upacara peringatan di Sekolah Publik Militer, tempat berlangsungnya pembunuhan massal.

    Trump meminta agar umat muslim dilarang masuk ke AS hingga pihak berwajib mengetahui sikap umat muslim di negaranya menyusul serangan di San Bernardino. Ucapan Trump mendpatkan kritik dari berbagai penjuru AS termasuk dari rekannya di Republik.

    Berbicara di Birmingham pada Selasa, 15 Desember 2015, Malala mengatakan kepada kantor berita AFP, "Pernyataannya penuh kebencian dan sangat diskriminatif."

    BBC | CHOIRUL AMINUDDIN 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.