Pelaku Teror Paris Ternyata Pernah Diadili Kasus Terorisme

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS, Barack Obama, Presiden Prancis, Francois Hollande dan Walikota Paris Anne Hidalgo berdoa bagi para korban serangan teroris saat menghadiri Konferensi Perubahan Iklim di Paris, Prancis, 30 November 2015. 150 pemimpin dunia menghadiri konferensi perubahan iklim meski kekhawatiran keamanan mengancam. REUTERS/Philippe Wojazer

    Presiden AS, Barack Obama, Presiden Prancis, Francois Hollande dan Walikota Paris Anne Hidalgo berdoa bagi para korban serangan teroris saat menghadiri Konferensi Perubahan Iklim di Paris, Prancis, 30 November 2015. 150 pemimpin dunia menghadiri konferensi perubahan iklim meski kekhawatiran keamanan mengancam. REUTERS/Philippe Wojazer

    TEMPO.CO, Jakarta - Satu dari tiga perancang teror di sejumlah tempat di kota Paris, Prancis ternyata cukup piawai menggunakan senjata api. Sammy Amimour, 28 tahun,  pernah belajar menembak di satu klub menembak yang lokasinya dekat dengan markas kepolisian Prancis. Ia  bahkan menjadi anggota asosiasi penembak polisi nasional Prancis (ANTP).

    Amimour mengambil kursus menembak di klub yang diklaim salah satu yang terpopuler di Paris pada April 2012. Klub yang didirikan oleh beberapa pensiunan polisi dan polisi aktif ini memiliki  2.350 anggota.  

    Seperti dikutip dari iTele yang memiliki akses ke pengadilan untuk mendapatkan data, Amimour yang pernah bekerja sebagai sopir bus mendaftar kursus menembak tanpa mendapat perhatian berarti dari intelijen. Saat itu ia dilaporkan bersih dari catatan kriminal. Dia bahkan mencukur janggutnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

    Satu-satunya persyaratan mengikuti kursus adalah berusia lebih dari 18 tahun dan harus membayar 130 euro atau setara Rp 2 juta.

    Amimour berasal dari kota pinggiran Paris, Drancy. Menurut kakak perempuannya Anna Amimour, adiknya seorang lelaki pemalu, sensitif, dan sosok yang manis. ia sempat berbicara via telepon dengan adik laki-lakinya itu hampir setiap hari sepanjang Agustus lalu. "Ia meminta saya mengirimkan salam kepada keluarganya dan kucing peliharaannya," kata Anna saat diwawancarai CNN, 28 November 2015.

    Terakhir kali, ia menerima kabar adiknya itu pergi ke Prancis Selatan hingga terdengar kabar adiknya terlibat teror Prancis yang menewaskan 130 orang.

    Ternyata jauh sebelumnya, Sammy Amimour sudah masuk dalam pantauan antiteror Prancis ketika dia didakwa pada 19 Oktober 2012 dengan tuduhan melakukan konspirasi untuk terorisme karena melakukan perjalanan ke Yaman atau Pakistan.

    Ketika ditanyai petugas dari DGSI, badan intelijen Perancis, Amimour mengklaim bahwa ia hanya ingin memiliki kemampuan membela diri saat berada di negara yang sedang berperang.

    Amimour kemudian mengubah pengakuan, mengatakan selalu menjadi penggemar pistol. Ia menggunakan pistol pertama kali pada usia 14 tahun saat berburu dengan pamannya di Senegal.

    Pengadilan kemudian membebaskan Amimour dengan jaminan. Namun ia  kemudian melanggar peraturan dengan meninggalkan Prancis menuju Suriah pada 11 September 2013. Hakim  mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional.

    Meskipun berstatus buronan, Amimour berhasil kembali ke Prancis dengan penyamaran dan mengambil bagian dalam serangan berdarah yang menewaskan 130 orang pada 13 November 2015.

    Dokumen pengadilan yang dilihat oleh Le Monde mengatakan, Amimour berlatih menembak bersama dua teman dan sesama teroris, Charaffe El Mouadan dan Samir Bouabout. Keduanya juga tunduk pada perintah penangkapan internasional. Dikatakan, setelah teror Paris, polisi menemukan video dari ketiga pelaku di klub pistol itu.

    Ayah Amimour yang pergi ke Suriah pada 2013 membawa misi membawa Amimour untuk pulang ke Prancis,  namun gagal. Sang ayah mengatakan anaknya telah terluka dan menggunakan penyangga selama pertemuan singkat mereka.

    "Samy (sebutan untuk Amimour) bersama dengan seorang pria yang tidak pernah meninggalkan kami sendirian. Pertemuan itu sangat dingin, dan ia tidak membawa saya ke rumahnya, tidak memberi tahu saya bagaimana dia terluka [atau] jika ia telah berjuang," kata sang ayah, Mohamed, kepada Le Monde setahun lalu.

    TELEGRAPH.CO.UK | MECHOS DE LAROCHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.