Ekuador Usir Staf Militer Kedutaan Besar AS  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Ekuador Rafael Correa saat jumpa pers mengenai kudeta militer di Honduras (29/6). Correa menyatakan akan melakukan aksi militer apabila diplomatnya  di Honduras terancam. Foto: REUTERS/Guillermo Granja

    Presiden Ekuador Rafael Correa saat jumpa pers mengenai kudeta militer di Honduras (29/6). Correa menyatakan akan melakukan aksi militer apabila diplomatnya di Honduras terancam. Foto: REUTERS/Guillermo Granja

    TEMPO.CO, Quito - Pemerintah Ekuador telah memerintahkan 20 staf Departemen Pertahanan dalam kelompok militer di Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk meninggalkan negara itu pada akhir bulan. Kabar ini diberitakan Associated Press dan dilansir USA Today edisi 25 April 2014.

    Menurut juru bicara kedutaan AS di Ekuador, Jeffrey Weinshenker, kelompok ini diperintahkan untuk menghentikan operasinya di Ekuador dalam sebuah surat tertanggal 7 April 2014.

    AP pertama kali mengetahui adanya pengusiran itu dari seorang pejabat senior Ekuador yang menolak diidentifikasi namanya karena sensitifnya informasi itu.

    Presiden Rafael Correa mengeluh secara terbuka pada Januari lalu bahwa Washington memiliki terlalu banyak perwira militer di Ekuador--diklaim ada 50 orang--dan mereka "menyusup di semua sektor". Pada saat itu, ia mengatakan ia berencana meminta beberapa di antara mereka untuk keluar dari negara itu.

    Weinshenker mengatakan kelompok militer memiliki 20 staf Departemen Pertahanan, dan tidak semuanya berseragam. Washington telah memberikan US$ 7 juta berupa bantuan keamanan ke Ekuador tahun lalu, termasuk pelatihan teknis untuk perawatan pesawat dan kerja sama dalam memerangi perdagangan narkoba, perdagangan manusia, dan terorisme.

    Weinshenker mengatakan kerja sama militer AS di Ekuador dimulai empat dekade lalu dan "semua kegiatan yang kita lakukan telah mendapatkan persetujuan eksplisit dari rekan-rekan Ekuador kami."

    Hubungan AS dengan Ekuador tegang dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sebelum Correa memberi suaka kepada pendiri WikiLeaks, Julian Assange, pada 2012. Wikileaks membocorkan ribuan dokumen militer dan kabel diplomatik AS, yang sangat memalukan Washington.

    Correa sebelumnya telah mengusir setidaknya tiga diplomat AS, termasuk kini Duta Besar Heather Hodges, pada 2011 sebagai respons atas adanya kabel diplomatik AS yang dibocorkan oleh WikiLeaks. Isi bocoran itu menunjukkan bahwa Correa mengetahui adanya korupsi tingkat tinggi di kalangan polisi.

    Pada bulan November, pemerintah Correa meminta US Agency for International Development (USAID) untuk mengakhiri operasinya di negara itu, dan menuduh badan itu mendukung kelompok oposisi Ekuador.

    Tak lama setelah menjabat presiden pada 2007, Correa membersihkan perwira militer Ekuador yang dianggap memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat. Dia juga mengakhiri perjanjian dengan Washington yang memungkinkan pesawat AS memerangi perdagangan obat dan memiliki pangkalan di lapangan udara Ekuador di Manta.

    Correa populer di dalam negeri karena program perangnya melawan kemiskinan, tapi secara luas dikritik karena menekan kebebasan sipil dan menggunakan hukum pidana pencemaran nama baik (defamation) terhadap wartawan.

    USA TODAY | ABDUL MANAN

    Berita Lainnya
    Inggris Minta Warga Muslim Cegah Anaknya ke Suriah  
    London Disebut Tak Aman bagi Pelancong UEA  
    Moldova: Putin Politikus Terpopuler di Dunia
    Kata Putin, Internet Itu Proyeknya CIA  

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.