PBB Kutuk Meluasnya Kerusuhan di Sudan Selatan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara SPLA menaiki truk di Juba, Sudan Selatan (21/12). Mediator diupayakan antara presiden Sudan Selatan untuk mencegah membesarnya pertempuran yang dapat menjadi perang etnis sipil. REUTERS/Stringer

    Tentara SPLA menaiki truk di Juba, Sudan Selatan (21/12). Mediator diupayakan antara presiden Sudan Selatan untuk mencegah membesarnya pertempuran yang dapat menjadi perang etnis sipil. REUTERS/Stringer

    TEMPO.COBentiu – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk bentrokan antaretnis yang masih terus terjadi di Sudan Selatan. PBB menyebut serangan yang melukai ratusan warga sipil ini sebagai pembunuhan bertarget.

    Dikutip Al-Jazeera, Senin, 21 April 2014, lewat akun Twitter-nya, Toby Lanzer, pejabat untuk urusan kemanusiaan PBB di Sudan Selatan mencuit pada Ahad malam, 20 April 2014, bahwa kekejaman telah terjadi di tanah Afrika ini. Banyak tubuh korban eksekusi tergeletak begitu saja di jalan-jalan Kota Bentiu.

    Lanzer menambahkan, beberapa orang yang berhubungan dengan oposisi bahkan menggunakan stasiun radio FM untuk menyiarkan pidato kebencian di kota yang membuat suasana semakin memanas.

    Saat ini, hampir semua lapisan masyarakat mengungsi ke markas PBB. “Pekan lalu, ada 5.000 warga sipil yang mengungsi. Kini sudah mencapai 22 ribu,” kata Lanzer. (Baca: Markas PBB Sudan Selatan Diserbu, 20 Tewas)

    Bentrokan yaang pecah sejak Desember lalu telah menewaskan setidaknya ribuan orang. Sebanyak lebih dari 1 juta orang juga meninggalkan rumah mereka ketika perpecahan mulai terjadi antara pendukung setia Presiden Salva Kiir dan loyalis Wakil Presiden Riek Machar, yang telah dipecat.

    ANINGTIAS JATMIKA | AL JAZEERA

    Terpopuler

    WNI Pemijat Refleksi Diadili di Malaysia
    Tim Pencari MH370 Siap Tinggalkan Samudra Hindia
    Presiden Korea Selatan Kecam Kapten Feri Sewol


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.