Kisah Gagalnya Penyergapan Tokoh Al-Shabaab

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok pemberontak Somalia, Al-Shabab.

    Kelompok pemberontak Somalia, Al-Shabab.

    TEMPO.CO, Mogadishu -  Amerika Serikat melakukan serangan kilat ke dua tempat sekaligus di Benua Afrika, Sabtu, 5 Oktober 2013 lalu. Serangan pertama ke Tripoli, untuk menangkap Nazih Abdul-Hamed al-Ruqai alias Anas al-Libi, tokoh Al-Qaeda yang diduga sebagai otak pengeboman Kedutaan AS di Tanzania dan Kenya 1998 lalu yang menewaskan lebih dari 200 orang. Serangan kedua dilakukan ke markas Al-Shabaab di Barawe, Somalia.

    Serangan di Tripoli dilakukan oleh Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, Delta Force. Penyerbuan di Barawe, untuk menangkap tokoh senior Al-Shabaab, Abdulkadir Mohamed Abdulkadir, dilakukan oleh Pasukan Khusus Angkatan Laut AS, Navy SEALs. 

    Penangkapan berlangsung hampir simultan di dua negara yang terpaut lebih dari 400 kilometer itu memiliki akhir berbeda. Delta Force berhasil membawa al-Libi sekitar pukul 06.30 tanpa perlawanan. Operasi Navy SEALs gagal menangkap Abdulkadir karena milisi Al-Shahaab memberikan perlawanan hebat.

    Media Inggris Guardian edisi 8 Oktober 2013 menulis kisah penyerbuan ke Barawe yang berakhir tak sesuai rencana itu. Navy SEALs adalah pasukan elite AS yang menyerbu ke tempat persembunyian Osama bin Laden pada 2 Mei 2011 di Abbotabad, Pakistan, yang berujung pada tewasnya pemimpin Al-Qaeda itu.

    Salah satu saksi dari peristiwa penyerbuan pagi buta di Barawe itu adalah Fadumo Sheikh, warga kota itu dan ibu dari anak-anak yang masih kecil. Sabtu pagi itu, dia sedang mempersiapkan sarapan untuk anaknya sebelum mereka pergi ke madrasah setempat. 

    Ia memulai hari lebih awal, sekitar pukul 02.00, karena ia terbangun oleh suara tembakan secara sporadis. Ia berusaha mempertajam pendengarannya dan terus mendengar tembakan. "Saya tidak punya firasat atau pemikiran bahwa serangan itu dilakukan Amerika. Aku melihat jam tanganku sekitar 30 menit kemudian dan mendengar satu ledakan dan kemudian terjadi ledakan lagi, seperti bom," kata dia. Tembak-menembak di pagi hari, kata Fadumo, tidak biasa kecuali bila Al-Shabaab sedang melakukan latihan.

    Tak jauh dari rumah Fadumo, pagi itu pasukan khusus AS Navy SEALs meluncurkan serangan amfibi kilat ke kelompok militan al-Shabaab. Targetnya adalah Abdulkadir, yang oleh intelijen Kenya dikenal sebagai Ikrima. Ia diincar karena memiliki kedekatan dengan Saleh Ali Nabhan, tokoh senior Al-Shabaab dan Al-Qaeda di Afrika Timur. Al-Shabaab juga diincar Kenya dan negara Barat karena berada di balik penyerbuan ke Westgate Mal, di Nairobi, Kenya, 21 September 2013 yang menewaskan sekitar 72 orang.

    Sasaran operasi pagi itu adalah sebuah rumah pantai dua lantai di Barawe, kota nelayan yang berpenduduk sekitar 200.000 jiwa dan merupakan pelabuhan perdagangan budak penting di era penjajahan. Ini adalah operasi penangkapan seperti yang dilakukan di Tripoli, tidak diniatkan untuk membunuh target.

    Rumah itu, sekitar 200 meter dari laut di sisi timur kota, diketahui umum sebagai markas para milisi asing yang ke Somalia untuk bergabung dengan Al-Shabaab. Bagi Faduma, kehadiran kelompok ini bukan sesuatu yang aneh.

    "Saya tinggal di sebuah rumah dekat pantai dan saya melihat rumah itu setiap hari. Ada begitu banyak pejuang Al-Shabaab keluar masuk," katanya. "Saya biasanya melihat mereka mondar-mandir tapi saya tidak pernah berpikir bahwa ada orang penting yang tinggal di dalam rumah itu."

    Apa yang tak terlihat oleh Faduma pagi itu adalah langkah tersembunyi tim Navy SEALs menggunakan speedboat menuju pantai Somalia sebelum matahari pertama muncul. Tim itu terdiri dari sekitar 20 Navy SEALs. Kapal mereka berlabuh di Samudera Hindia, yang diapit oleh tiga kapal kecil sebagai cadangan.

    Saat Navy SEALs mendekati sasaran, tidak semua orang di Barawe masih tidur di pagi yang dingin itu. Abdurahman Yarow, warga lama itu, merupakan salah satunya. "Saya membungkus sorban saya di leher dan kepala untuk melindungi dari dingin saat hendak menuju masjid. Ketika saya hampir masuk masjid, saya mendengar suara di belakang saya. Saya melihat seperti ada tiga ekor sapi besar menuju utara masjid. Saat itu gelap sehingga saya tidak bisa mengidentifikasi dengan baik siapa mereka."

    "Setelah 10 menit, saya mendengar letusan senjata pertama, yaitu ketika baku tembak terjadi antara pejuang Al-Shabaab di rumah itu dengan pasukan AS. Saya sekarang mengerti sapi besar yang saya lihat di malam hari adalah pasukan khusus Amerika dengan tas militer di punggung mereka yang pergi ke arah rumah yang mereka ditargetkan," kata dia.

    Laporan media AS, NBC, menyebutkan Navy SEALs langsung mengambil posisi di dalam kompleks rumah itu. Kemudian ada satu pejuang Al-Shabaab berjalan keluar, bersikap biasa, merokok, dan kembali ke dalam. Milisi itu awalnya tampak santai dan tidak memberikan indikasi bahwa ia melihat kehadiran pasukan Navy Seals. Namun, apa yang terjadi sesudahnya menunjukkan hal sebaliknya. Tiba-tiba dia keluar dan melepaskan tembakan dengan senapan serbu AK-47.

    Unsur kejutan yang diharapkan oleh Navy SEALs hilang. Milisi Al-Shabaab mengeluarkan tembakan dan granat sehingga suasananya hirupk pikuk yang terdengar di seluruh kota. kata salah satu orang tua di kota itu, pasukan Amerika terus menyerang. "Para penyerang dari Amerika Serikat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok satu, yang terdiri dari enam orang , menyerbu rumah dan mulai menembaki orang-orang di dalamnya. Sedangkan kelompok kedua, juga setidaknya enam orang, tetap di luar rumah," kata dia. "Penembakan hebat terjadi di dalam yang akhirnya menyebabkan satu milisi Al-Shabaab tewas. Al-Shabaab memiliki lebih banyak orang di dalam dan mereka melawan dengan keras terhadap pasukan Amerika itu."

    "Pasukan Amerika mencoba untuk menggeledah dari kamar ke kamar untuk mulai mencari sasaran besar, tapi Al-Shabaab memperkuat pasukannya dengan mendatangkan dari rumah-rumah lain. Kemudian situasi memburuk sampai Amerika mundur," kata dia.

    Menurut laporan NBC, beberapa pasukan Navy SEALs bisa melihat melalui jendela bahwa Abdulkadir ada di sana, tapi ia sangat dilindungi. Menurut Al-Shabaab, komandannya itu tidak ada di rumah tersebut. Pejabat Departemen Pertahanan AS enggan memberikan gambaran penuh soal penyerbuan itu. Mereka mengatakan Navy SEALs mundur dari pertempuran bersenjata karena mencegah jatuhnya korban sipil. Dari informasi yang bocor ke media, di kompleks perumahan yang diserbu itu banyak terdapat anak-anak dan perempuan dari yang diperkirakan Navy SEALs.

    Pasukan khusus itu pun kembali ke kapal mereka. Tak ada yang terluka setelah kontak senjata lebih kurang satu jam tersebut. Akhirnya situasi di kota nelayan itu kembali tenang.

    Menurut Faduma, tembak-menembak berhenti sekitar pukul 03.00 pagi. "Seorang tetangga menelepon saya di telepon dan mengatakan ada serangan terhadap mujahidin. Ketika suasana cukup aman untuk melihat segala sesuatu di luar, saya keluar untuk melihat sekitar. Di luar rumah yang diserang, ada beberapa pejuang Al-Shabaab dan warga yang datang untuk menyaksikan peristiwa itu," kata Faduma.

    "Para pejuang al-Shabaab tidak berbicara kepada penduduk sekitar. Beberapa dari mereka bertopeng dan Anda tidak bisa melihat wajahnya. Saya melihat satu orang tewas dan ia dimasukkan ke dalam mobil untuk dimakamkan. Mereka mengatakan ia menjadi 'martir'."

    Menurut sumber Guardian di kota itu, orang yang mati itu adalah pengawal Abdulkadir. Pada hari Selasa, 8 Oktober 2013, Menteri Pertahanan Somalia Mohamud Abdihakim Haji Fiqi mengklaim dua anggota Al-Shabaab tewas dalam serangan pagi itu. "Kami menemukan bahwa dua komandan senior--salah satu dari mereka milisi asing--tewas dalam serangan itu meskipun target utama tidak ditemukan." Seorang pejabat PBB di Somalia juga membenarkan ada dua tokoh al-Shabaab yang tewas: satu orang Sudan, lainnya warga Somalia dan Swedia.

    Faduma mengatakan, ada lebih banyak milisi dan pendukung Al-Shabaab yang datang ke rumah itu pada pagi harinya. "Mereka bersumpah akan membunuh siapa saja yang ditemukan bekerja dengan orang-orang kafir itu."

    "Di pantai, para penduduk melihat bagian yang ditinggalkan oleh pasukan AS. Saya melihat jaket militer tahan peluru abu-abu. Ada juga darah berserakan di tanah. Ada juga sepatu bot militer yang kami duga adalah milik orang-orang Amerika."

    Buntut dari serangan AS itu, Al-Shabaab menempatkan lebih banyak milisi bersenjata untuk berpatroli di jalan-jalan Barawe, menempatkan orang dan senjata anti-pesawat di pantai. Mereka juga mengejar orang setempat yang jadi informan dan membantu intelijen AS menemukan rumah itu. Seorang pria yang sering menggunakan warung Internet di kota itu, ditangkap sehari setelah penyerbuan.

    Al-Shabaab menguasai Barawe pada tahun 2008 dan menjadikannya sebagai tempat perlindungan bagi tokoh-tokoh seniornya setelah mereka kehilangan kendali atas ibu kota Somalia, Mogadishu, dan kota-kota lainnya pada tahun 2011. Yang diketahui ada di kota ini: pemimpin Al-Shabaab Ahmed Godane, yang telah digambarkan sebagai orang yang paling dicari di Afrika setelah pemboman Westgate Mal: Omar Hammami, yang disebut "rapper jihad" dari Alabama, yang tewas bulan lalu setelah berselisih dengan Godane; dan Abdulkadir sendiri.

    Barawe berada sekitar 218 kilometer dari Mogadishu. Kota terdekat yang dikontrol pasukan pemerintah Somalia dan Pasukan Uni Afrika adalah Shalanbood, yang jaraknya 110 kilometer dari tempat ini. Di sebelah timur adalah kamp pelatihan Ambaresa untuk pejuang asing Al-Shabaab.

    Peristiwa penyerbuan 5 Oktober 2013 itu bisa meningkatkan rasa percaya diri Al-Shabaab karena bisa melawan dalam aksi penyergapan, tapi juga memberi sinyal kuat bahwa Amerika Serikat siap untuk mengirim pertempuran ke depan pintunya. Berbicara di sebuah masjid di Barawe pada Senin, 7 Oktober 2013, juru bicara Al-Shabaab Sheikh Abu Mus'ab Abiasis mengatakan: " Negara-negara Barat ... harus diingat kami tahu bahwa kami adalah target Anda, tetapi kami tidak akan tertangkap dengan mudah."

    "Kami tahu Anda mengasah pisau Anda untuk memotong kepala kami. Kami tahu siapa musuh kami. Kami tidak akan tertidur lelap sehingga Anda dapat menyerang kami sekaligus. Kami selalu waspada dan serangan pengecut Anda akan berakhir dengan kegagalan."

    "Serangan itu telah membuat mereka sangat gugup," kata Daveed Gartenstein-Ross, analis yang mengamati Al-Shabaab. Organisasi yang berbasis di Somalia dan menyatakan merger dengan Al-Qaeda pada tahun 2012 itu dilaporkan menerapkan jam malam setelah penyergapan yang gagal itu. Kata Daveed, Al-Shabaab pasti akan menggunakan serangan pasukan khusus AS itu sebagai bagian dari propaganda anti-Amerika.

    Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel mengatakan, operasi di Somalia yang hampir bersamaan dengan di Libya menunjukkan "ketepatan tak tertandingi" dan "luasnya jangkauan" AS melawan terorisme. "Operasi ini di Libya dan Somalia mengirim pesan yang kuat kepada dunia bahwa Amerika Serikat tak kenal lelah meminta pertanggungjawaban pelaku teror, tidak peduli di mana mereka bersembunyi atau berapa lama mereka menghindar," kata Hagel.

    GUARDIAN | ABDUL MANAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.