Di PBB, Suriah Tuding Oposisi Terima Senjata Kimia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Moualem. REUTERS/Thaier al-Sudani

    Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Moualem. REUTERS/Thaier al-Sudani

    TEMPO.CO, New York - Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Muallem menuduh kekuatan asing (Timur Tengah) dan Barat menyediakan senjata kimia untuk kelompok oposisi. "Senjata itu digunakan dalam serangan Agustus 2013 di pinggiran Damaskus menyebabkan ratusan orang tewas."

    Berpidato di depan Sidang Umum PBB, Senin, 30 September 2013, al-Muallem, lebih jauh mengatakan, sementara Pemerintahan Suriah bersedia bekerja sama dengan tim investigasi PBB untuk menyelidiki serangan 21 Agustus 2013 di pinggiran Damaskus namun di pihak lain komisi (PBB) "dihalang-halangi" melakukan investigasi oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

    "Suriah telah menyetujui pelarangan penggunaan senjata kimia, hal itu membuktikan bahwa (kami) menentang penggunaannya senjata tersebut," kata al-Muallem.

    Dia menambahkan, "Masih banyak tantangan yang harus kita hadapi bersama, apakah yang memasok kelompok teroris dengan tipe senjata itu akan memegang komitmen hukum (internasional)."

    Menteri Luar Negeri Suriah ini lebih lanjut menerangkan, "Negeri kami bukan dihadapkan pada perang saudara melainkan berperang melawan kaum teroris."

    Al-Muallem dalam pidato itu juga menyebutkan bahwa sanksi yang diterapkan AS dan Uni Eropa terhadap anggota kabinet Suriah sebagai sebuah perbuatan tidak bermoral dan tidak manusiawi. "Mereka telah memperburuk keadaan bagi jutaan rakyat Suriah yang kehilangan tempat tinggal diakibatkan oleh munculnya kelompok-kelompok bersenjata."

    "Dari mimbar ini perlu saya sampaikan, warga Suriah harus segera kembali ke kota dan kampung jhalamannya dimana negara menjamin keselamatan mereka," ucapnya.

    PBB menerima laporan bahwa telah terjadi penggunaan senjata pembunuh massal dalam serangan Rabu, 21 Agustus 2013, di pinggiran Damaskus. Menurut data yang masuk ke PBB, akibat serangan tersebut, lebih dari 300 orang tewas. Oposisi menyebut angka 1.300 orang tewas, sementara menurut catatan AS korban tewas mencapai 1.400 orang. Hingga saat ini belum diketahui siapa yang menggunakan senjata kimia tersebut.

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    Topik Terhangat

    Edsus Lekra|Senjata Penembak Polisi|Mobil Murah|Info Haji|Kontroversi Ruhut Sitompul

    Berita Terpopuler
    Australia Minta Maaf Soal Impor Sapi
    Sejarah Kelam Ludruk Saat Peristiwa 1965
    Begini Isi Prinsip 1-5-1 Lekra
    PPATK Ungkap Rekening Gendut Pegawai Kemendikbud
    KPK: Labora Tak Pernah Beri Data Aliran Uang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.