Pembom Boston Dipindah ke Rumah Sakit Penjara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kawan-kawan sekolahnya sangat terkejut ketika Dzhokhar Tsarnaev dinyatakan sebagai tersangka pelaku bom Boston Marathon, karena ia dikenal sebagai pemuda yang tenang dan pemalu. huffingtonpost.com

    Kawan-kawan sekolahnya sangat terkejut ketika Dzhokhar Tsarnaev dinyatakan sebagai tersangka pelaku bom Boston Marathon, karena ia dikenal sebagai pemuda yang tenang dan pemalu. huffingtonpost.com

    TEMPO.CO, Jakarta- Tersangka pembom Boston Maraton Dhzokhar Tsarnaev telah dipindahkan dari Beth Israel Deaconess Medical Center ke pusat medis penjara federal, Federal Medical Center Devens, sekitar 60 kilometer dari Boston. Fasilitas itu merupakan bekas markas militer dan sekarang digunakan untuk merawat para tahanan federal.

    "Seharusnya dia memang di sana, dia tak harus di sini lagi," kata Linda Zamansky, seorang pasien di Beth Israel. Dia mengatakan, pindahnya Dzhokhar Tsarnaev, 19 tahun, akan mengurangi stres pada para korban bom Boston Maraton yang tengah dirawat di sana juga.

    Adapun agen FBI hingga Jumat 26 April waktu setempat masih melakukan penyelidikan di Universitas Massachusetts Darthmouth, tempat Tsarnaev mengenyam pendidikan. Juru bicara FBI Jim Martin enggam mengungkapkan apa yang tengah dicari oleh tim FBI di sana.

    Dalam sebuah foto udara yang dilansir Boston Globe, sekitar 20 penyidik, yang berpakaian putih dan menggunkan sepatu boots warna kuning memunguti sampah yang ada di sana dengan sekop dan garpu.

    Dzhokhar Tsarnaev tertangkap setelah pencarian besar-besaran yang dilakukan aparat keamanan setempat di seluruh wilayah Boston. Dia akhirnya ditemukan di satu boat di belakang rumah penduduk di Watertown. Kondisi Dzhokhar terluka dan dikabarkan dia mengalami luka tembak di bagian lehernya.

    CBC|JULI HANTORO




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.