Efek Misha kepada Dua Pelaku Bom Boston  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dzhokhar Tsarnaev memperoleh green card pada tahun 2007, dan mendapat kewarganegaraan Amerika Serikat pada 11 September 2012. REUTERS/Alexander Demianchuk

    Dzhokhar Tsarnaev memperoleh green card pada tahun 2007, dan mendapat kewarganegaraan Amerika Serikat pada 11 September 2012. REUTERS/Alexander Demianchuk

    TEMPO.CO, Washington - Dzhokhar Tsarnaev, 19 tahun, akan menghadapi dakwaan atas pengeboman Boston, 15 April 2013, sendirian. Ia yang kini masih terbaring di rumah sakit kemungkinan akan diancam dengan hukuman mati. Partner in crime-nya, Tamerlan Tsarnaev, tewas dalam kontak senjata dengan polisi empat hari setelah pengeboman yang menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 264 lainnya.

    Sejumlah keterangan menyebutkan, aksi Dzhokhar karena pengaruh Tamerlan, kakaknya. Karena Biro Penyidik Federal (FBI) tak menemukan ada indikasi kedekatan keduanya dengan organisasi teroris, asal mula radikalisme Tamerlan menjadi tanda tanya. Keluarga dan teman dekat Tamarlen menyebut Misha-lah yang menyebabkan Tamerlan mengubah cara pandangnya terhadap dunia.

    Setelah berteman dengan Misha, pemuda yang apatis terhadap agama ini menjadi penganut Islam yang taat serta meningalkan dua hobinya: tinju dan musik. "Entah bagaimana dia menguasai otaknya," kata Ruslan Tsarni, paman Tamerlan.

    Elmirza Khozhugov, 26 tahun, menguatkan kesaksian Tsarni. Khozhugov adalah mantan suami Ailina, adik Tamerlan, yang kini tinggal di Almaty, Kazakstan. Ia mengaku kaget saat Tamerlan disebut sebagai tersangka utama. "Tapi, setelah beberapa jam berpikir, saya kira mungkin dia melakukannya."

    Tamerlan bersaudara beremigrasi pada 2002 atau 2003 dari Dagestan, sebuah republik Rusia yang menjadi pusat pemberontakan Islam, ke Amerika. Mereka dibesarkan dalam sebuah keluarga yang mengikuti paham Sunni, kelompok terbesar dalam Islam. Kata Khozhugov, mereka tak rutin ke masjid dan jarang diskusi soal agama.

    Sampai akhirnya, tahun 2008 atau 2009, Tamerlan bertemu Misha, pria yang sedikit lebih tua, botak, dengan janggut panjang kemerahan. Khozhugov percaya mereka kerap sama-sama pergi ke masjid di Boston. Misha adalah asli Armenia dan beralih ke Islam.

    Pada suatu kesempatan, kata Khozhugov, Misha datang ke rumah keluarga Tamerlan di luar Boston. Ia duduk di dapur, mengobrol dengan Tamerlan selama berjam-jam. "Misha mengatakan kepadanya apa itu Islam, apa yang baik dalam Islam, apa yang dianggap buruk oleh Islam," kata Khozhugov, yang hadir saat percakapan itu.

    Percakapan berlanjut hingga tengah malam sampai ayah Tamerlan, Anzor, pulang kerja. "Mengapa Misha sampai tengah malam masih di rumah ini," kata Anzor. Karena asyik mengobrol, Tamerlan tak mendengarkan pertanyaan itu. Zubeidat, ibu Tamerlan, minta suaminya tak khawatir. "Mereka berbicara tentang agama dan hal-hal baik."

    Seiring berjalannya waktu, Tamerlan dan ayahnya kerap berdebat. "Ketika Misha akan mulai berbicara, Tamerlan akan berhenti berbicara dan mendengarkan. Itu membuat ayahnya marah karena Tamerlan tidak mendengarkan ayahnya seperti itu," kata Khozhugov. Anzor menelepon saudaranya dan mengaku khawatir tentang efek Misha terhadap anaknya.

    Kata pejabat Amerika Serikat, Tsarnaev juga menjadi pembaca setia situs jihad dan propaganda ekstremis. Dia membaca majalah Inspire, media online berbahasa Inggris milik afiliasi al-Qaeda di Yaman.

    Tamerlan sebenarnya mencintai musik. Beberapa tahun lalu, ia mengirim lagu yang disusunnya dalam bahasa Inggris dan Rusia kepada Khozhugov. Dia juga mengatakan akan mulai sekolah musik. Enam minggu kemudian, Khozhugov menelepon dan menanyakan sekolah musiknya itu.

    "Aku berhenti," kata Tamerlan.
    "Mengapa berhenti?" tanya Khozhugov. "Kau baru saja mulai."
    "Musik tidak benar-benar didukung dalam Islam," jawabnya.
    "Siapa yang bilang begitu?"
    "Misha."

    Selain meninggalkan hobi musiknya, Tamerlan menaruh minat pada Infowars, situs yang mengulas teori konspirasi. Tamerlan juga tertarik saat menemukan salinan buku The Protocols of the Elders of Zion, yang pertama kali diterbitkan di Rusia tahun 1903 dan menyebut bahwa Yahudi memiliki plot untuk mengambil alih dunia.

    "Dia tidak pernah mengatakan membenci Amerika atau Yahudi," kata Khozhugov. "Tapi dia cukup agresif atas kebijakan Amerika Serikat terhadap negara dengan populasi muslim. Dia tidak menyukai perang."

    Salah seorang tetangga saudaranya, Albrecht Ammon, mengingat sebuah pertemuan di mana Tamerlan berdebat tentang kebijakan luar negeri Amerika, perang di Afganistan dan Irak, serta masalah agama.

    Versi Misha mengenai hal ini belum bisa diperoleh. Associated Press beberapa hari ini berupaya untuk mengidentifikasi dan mewawancarainya, tapi tak berhasil.

    Soal pengaruh Tamerlan terhadap Dzhokhar tak diragukan lagi. "Mereka semua mencintai Tamerlan. Di tertua dan dia, dalam banyak hal, adalah panutan bagi saudara-saudaranya," kata Khozhugov. Ia yakin Dzhokhar mencintainya dan akan melakukan apa pun yang dikatakannya.

    ASSOCIATED PRESS | REUTERS | ABDUL MANAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.