Paus Ingatkan untuk Tak Mengutuk yang Lain  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paus Fransiskus. REUTERS/Tony Gentile

    Paus Fransiskus. REUTERS/Tony Gentile

    TEMPO.CO, Vatikan - Paus Fransiskus memimpin misa bagi masyarakat Vatikan, kemarin. Dalam khotbahnya, ia meminta jemaat untuk tidak terlalu cepat mengutuk orang lain atas kesalahan yang mereka lakukan.

    Ia memimpin misa itu di Santa Anna, sebuah gereja di dalam tembok Vatikan yang digunakan sebagai gereja bagi para pekerja di negara-kota itu. Sebelum ia memasuki gereja kecil itu, Fransiskus berhenti untuk menyapa jemaat yang telah berbaris di luar gerbang sambil berteriak, "Francesco, Francesco, Francesco!", namanya dalam bahasa Italia.

    Dia mengobrol dan tertawa dengan mereka sebelum menunjuk jam tangan hitam plastik dan berkata, "Hampir 10.00, saya harus masuk ke dalam untuk misa. Mereka menunggu saya."

    Memakai jubah ungu untuk liturgi pra-Paskah, yang berakhir dalam dua minggu sebelum hari Minggu Paskah, ia menyampaikan homili singkat dalam bahasa Italia tanpa catatan, yang berpusat pada kisah Injil tentang seorang wanita yang telah melakukan perzinahan.

    Ia menyatakan, Yesus berkata kepada mereka yang siap dengan batu untuk menghukum wanita itu, "Biarkan dia di antara kamu yang tidak berdosa." Ia kemudian mengatakan kepada wanita itu, "Pergi dan jangan berbuat dosa lagi."

    "Saya pikir, bahkan kita kadang-kadang seperti orang-orang ini, yang di satu sisi ingin mendengarkan Yesus, namun di sisi lain kadang-kadang kita ingin melempari orang lain dengan batu dan mengutuknya. Pesan dari kisah ini adalah berkasih sayanglah kepada sesama," katanya.

    Pada akhir misa, dia menunggu di luar gereja dan menyapa jemaat ketika mereka meninggalkan gedung gereja. Dia berkata kepada mereka ketika mereka menyalaminya, "Berdoalah untuk saya."

    AP | TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.