Keluarga Qadhafi Gugat NATO

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Libya bereaksi terhadap kematian Moammar Gadhafi di luar Kedutaan Besar Libya di London, Kamis (20/10). AP Photo/Sang Tan

    Warga Libya bereaksi terhadap kematian Moammar Gadhafi di luar Kedutaan Besar Libya di London, Kamis (20/10). AP Photo/Sang Tan

    TEMPO Interaktif,  - Huneish Nasr menjadi salah satu saksi yang melihat Kolonel Qadhafi menjelang detik-detik terakhir hidupnya. "Revolusioner datang ke arah kami," kata pria berusia 60 tahunan yang bekerja sebagai sopir pribadi Qadhafi selama 30 tahun itu. "Beliau tidak takut, tapi kelihatan bingung melihat kepanikan di sekitar. Ia tak tahu mesti berbuat apa."

    Beberapa menit kemudian, setelah Qadhafi sempat dimaki-maki dan dipukuli, peluru menembus kepala dan perut pemimpin Libya selama 42 tahun tersebut. "Semuanya meledak begitu saja," kata Nasr, yang kini ditahan pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC). Ia tertangkap bersamaan dengan serangan pesawat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terhadap konvoi mereka.

    "Kalau masih ada orang dekat yang hidup, saya tak tahu lagi di mana mereka," kata Nasr, yang digaji sekitar Rp 4 juta sebulan plus mendapat sebuah rumah di Sirte. Menurut dia, Qadhafi seorang yang baik. "Demi Tuhan saya bersumpah, saya tak pernah sekali pun melihat kelakuan dia yang buruk."

    Meski begitu, Qadhafi ditinggal oleh orang-orang yang pernah dipekerjakannya. Nasr sendiri telah diminta berhenti. Tapi orang yang sekampung dengan Qadhafi ini memilih tetap setia. Terakhir ia bertemu dengan Qadhafi pada September setelah minggat dari Tripoli dikawal Mansour Dhao, Mohammed Fahima (sopir), Izzedin al-Shira (kepala keamanan), dan Abdullah Khamis.

    "Dia selalu diam dan menghadap ke barat," kata Nasr, melihat tanda-tanda kejanggalan pada bosnya itu. Selasa subuh lalu, Nasr beruntung melihat jasad bosnya itu untuk terakhir kali, masuk ke liang lahad terbungkus pasir tanpa nisan. Keluarga Qadhafi pun tengah berupaya menuntut NATO atas kematian sang kolonel.

    "Membunuh dengan sengaja seseorang yang dilindungi Konvensi Jenewa jelas merupakan pelanggaran pidana perang sesuai dengan Pasal 8 Statuta Roma tentang Peradilan Pidana Internasional," ujar Marcel Ceccaldi, salah satu anggota tim pengacara keluarga Qadhafi. Keluarga, kata dia, akan menuntut badan eksekutif NATO dan pemimpin negara-negara sekutu.

    "Pembunuhan terhadap Qadhafi jelas memperlihatkan bahwa tujuan NATO adalah untuk menyingkirkan rezim, bukan melindungi rakyat sipil," kata Ceccaldi. Pemerintah NTC telah memerintahkan penyelidikan atas tewasnya Qadhafi dan putranya, Muttasim. Sebelumnya, NTC berkilah bahwa Qadhafi tewas dalam baku tembak di Sirte.

    Adapun Saif al-Islam Qadhafi dan Abdullah Sanussi, Kepala Dinas Intelijen Libya semasa Qadhafi, kemarin disebut-sebut hendak menyerahkan diri ke Peradilan Pidana Internasional (ICC) di Den Haag. Sebagai ganti, Saif dan Sanussi meminta perlindungan dari lembaga peradilan dunia tersebut. Namun ICC mengaku belum mendengar informasi tersebut.

    Saif, yang diduga telah berada di Niger, Ahad kemarin menyerukan perlawanan terhadap NTC. "Saya imbau untuk terus melakukan perlawanan. Saya di Libya, hidup, bebas, dan berencana melakukan balas dendam," ujarnya seperti direkam saluran televisi Suriah, Al-Rai. "Persetan dengan kalian, tikus-tikus dan NATO yang membela kalian."

    Organisasi pegiat hak asasi Human Rights Watch menyatakan telah menemukan sejumlah jasad dalam kondisi tangan terikat ke belakang yang dieksekusi tak jauh dari Sirte. Kemarin Palang Merah Internasional menyatakan telah menemukan 267 jenazah yang juga diduga korban eksekusi di kampung halaman Qadhafi tersebut.

    l ANN | REUTERS | TELEGRAPH | ANDREE PRIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.