Diancam Bom, Singapore Airlines Mendarat Darurat di India

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Singapore Airlines. TEMPO/ Arie Basuki

    Singapore Airlines. TEMPO/ Arie Basuki

    TEMPO Interaktif, Kolkata - Pesawat Singapore Airlines yang mengangkut 250 penumpang dan 15 awak melakukan pendaratan darurat di Bandara Kolkata, India, pada Ahad (3/10) pukul 11:39 waktu setempat, menyusul laporan adanya ancaman bom.

    Pesawat saat itu tengah dalam penerbangan dari Moskow menuju Singapura. Sebelumnya pesawat bertolak dari Houston.

    Pendaratan darurat dilakukan setelah pilot pesawat mendapat informasikan dari polisi Moskow bahwa kemungkinan ada bom dalam pesawat. Sang pilot kemudian langsung menghubungi petugas kontrol lalu lintas udara di Bandara New Delhi.

    Namun petugas bandara menolak pesawat mendarat di Bandara New Delhi dengan alasan sedang dalam pengamanan tingkat tinggi untuk pembukaan Commonwealth Games pada Ahad.

    Pesawat kemudian melanjutkan ke Kota Kolkata dan menghubungi petugas Air Traffic Control (ATC) di kota tersebut untuk minta izin mendarat.

    Pejabat Bandara Kolkata mengatakan izin diberikan dan staf Singapore Airlines di kota itu disiagakan dan diminta untuk mempersiapkan diri guna mengevakuasi penumpang dari pesawat.

    Karena tidak ada jadwal penerbangan Singapore Airlines di Kolkata pada hari itu, staf Singapore Airlines harus buru-buru ke bandara untuk menyiapkan kesiagaan.

    Pengaturan dibuat untuk pesawat tersebut yang akan di parkir di areal yang telah diisolasi setelah mendarat. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa jika ancaman tersebut terbukti benar, pesawat lainnya yang berada di Bandara Kolkata tidak akan terpengaruh.

    Begitu pesawat mendarat, langsung dibawa ke lokasi isolasi. Penumpang segera dievakuasi dan petugas mendeteksi ada tidaknya bom dalam pesawat. Sampai laporan terakhir datang, tidak ada benda mencurigakan yang ditemukan petugas.

    TIMES OF INDIA l BASUKI RAHMAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.