Korban Susu Melamin di Cina Menuntut di Pengadilan Hong Kong

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Hong Kong – Skandal susu melamin di Cina masih menyisakan masalah bagi korbannya. Empat orang tua yang anaknya teracuni susu melamin merasa frustasi oleh ketidakmampuan mereka untuk mendapatkan kompensasi di Cina. Namun, mereka tak menyerah. Selasa (4/5) ini, mereka membawa kasusnya ke Hong Kong, bekas jajahan Inggris yang mempertahankan sistem peradilan gaya Barat.

    Keempat orangtua itu menggugat perusahaan susu Selandia Baru Fonterra. Anak-anak mereka di antara 300.000 yang mengalami sakit setelah mengkonsumsi produk susu yang sengaja dicampur dengan bahan kimia industri melamin untuk mengelabui inspektur dalam pengujian kadar protein.

    Fonterra tidak pernah dituduh melakukan kesalahan, tetapi Sanlu Group Co sebagai anak perusahaan di Hong Kong, pemegang saham minoritas itu menjadi salah satu perusahaan yang terlibat dalam skandal susu.

    Pengacara Peng Jian, yang mewakili sekitar 200 orangtua korban Sanlu, mengatakan dana US$ 132.000.000 didirikan oleh perusahaan untuk kompensasi korban membutuhkan prosedur aplikasi yang berat dan tidak memperlakukan korban dengan adil. Jadi empat kliennya mencari kompensasi di Hong Kong.

    Pada hari Selasa, Peng dan kliennya Chen Lu menghadiri sidang pertama di Hong Kong. Chen berkata bahwa anaknya yang berusia tiga tahun menderita batu ginjal setelah minum susu formula yang terbuat dari susu bubuk Sanlu sejak lahir dan saat ini terlalu lemah untuk masuk sekolah di taman kanak-kanak.

    "Aku telah membayar biaya pengobatan. Saya tidak bekerja jadi saya bisa tinggal di rumah dan mengurus anak saya. Fonterra harus membayar kompensasi yang sesuai," kata Chen.

    Chen, dari kota Zhengzhou, Cina tengah, telah diberikan 2.000 yuan atau sekitar Rp 2,8 juta sebagai kompensasi di Cina dan mencari tuntutan HK$ 14.800 atau sekitar Rp 18 juta. Orangtua lainnya menuntut kompensasi mulai dari dari HK$ 12,400 sampai HK$ 33,500.

    Sekretaris Fonterra General Counsel dan Company David Matthews, yang mewakili perusahaan Selandia Baru di sidang hari Selasa, kepada wartawan, mengatakan skandal melamin adalah 'peristiwa yang sangat tragis, "tapi bahwa prosedur yang tepat adalah untuk mencari kompensasi di Cina daratan, bukan di Hong Kong. Ini masalah yang harus ditangani di Cina," kata Matthews.

    AP| NUR HARYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.